Kompas.com - 11/11/2016, 16:04 WIB
Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia disela-sela acara yang digelar Bi Institute di Nusa Dua, Senin(26/9/2016) KOMPAS.com/SRI LESTARIMirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia disela-sela acara yang digelar Bi Institute di Nusa Dua, Senin(26/9/2016)
|
EditorM Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Pagi ini, Jumat (11/11/2016), nilai tukar rupiah sempat melemah bahkan hingga sempat menembus level Rp 13.800 per dollar AS.

Lalu, bagaimana pendapat Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter terkait pelemahan tersebut?

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan, pelemahan tersebut tidak terlepas dari faktor eksternal khususnya terkait kebijakan presiden terpilih AS Donald Trump.

Dalam beberapa kesempatan, Trump menyatakan bakal melakukan kebijakan proteksionisme dalam perekonomian AS.

Setelah itu, muncul beberapa spekulasi dan analisis mengenai dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap perekonomian negara-negara lainnya.

Menurut Mirza, berdasarkan analisis yang bermunculan, negara-negara berkembang atau emerging markets akan sangat terdampak kebijakan itu.

"Analisis-analisis itu menurut kami ada dasarnya, tapi itu buat negara yang sangat berkaitan dengan AS, sehingga pada 8 sampai 9 November 2016 mata uang seperti (peso) Meksiko melemah 7 persen," jelas Mirza di kantornya, Jumat sore.

Mirza berpendapat, pelemahan rupiah bisa ditangkal dengan fundamental ekonomi Indonesia yang baik.

Salah satu rapor baik perekonomian Indonesia yang mendukung fundamental adalah pertumbuhan ekonomi kuartal III yang mencapai 5,02 persen.

Dibandingkan dengan negara-negara lain yang sekawasan, realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut masih tergolong baik.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Singapura tidak sampai 2 persen dan Thailand di bawah 3 persen. Sehingga, di kawasan ASEAN, hanya dua negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi baik, yakni Filipina yang mencatat 6 persen dan Indonesia.

"Defisit transaksi berjalan juga tidak lebih dari 2,5 persen PDB, bahkan 1,8 persen. Jadi suatu angka yang sangat sehat. Dari sisi fundamental Indonesia dalam kondisi yang baik," terang Mirza.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.