Menteri PPN Apresiasi Pemda yang Tidak Sering Datang ke Pemerintah Pusat

Kompas.com - 11/01/2017, 14:17 WIB
Menteri PPN Bambang Brodjonegoro di acara World Islamic Economic Forum (WIEF) 2016 di Jakarta Yoga SukmanaMenteri PPN Bambang Brodjonegoro di acara World Islamic Economic Forum (WIEF) 2016 di Jakarta
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Bambang Brojonegoro mengaku kerap kedatangan kepala daerah dengan membawa satu isu yang sama yakni kekurangan anggaran.

Padahal, banyak cara yang bisa dilakukan para kepala daerah untuk mencari pendanaan selain dari pemerintah pusat.

“Dalam konteks otonomi daerah tidak ada cara lain bagi setiap kepala daerah untuk menjadi pemimpin yang kreatif membuat daerahnya kompetitif, dengan inovasi,” kata Bambang, Rabu (11/1/2017).

Ia lantas memuji para kepala daerah yang tidak banyak datang menemui pemerintah pusat, tetapi mampu mampu membangun daerahnya dengan segala potensi yang ada.

Hal itu bisa dilakukan bukan karena hanya berpangku tangan kepada kekayaan SDA semata, tetapi atas kemauan mengembangkan kreatifitas dan inovasi dalam pembangunan.

Menurut Bambang, kekayaan sumberdaya alam (SDA) kerap menjadi faktor yang membuat pemerintah daerah melupakan inovasi dan kreativitas dalam pembangunan. Padahal, sumber daya tersebut terbatas, bisa habis atau rusak.

Lantaran hal itu, Bambang Brojonegoro mengingatkan para pemimpin daerah untuk tidak hanya berpangku tangan atau bersandar kepada kekayaan SDA daerah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kalau hanya terpaku pada SDA dan eksplorasi dan ekspolitasi, mungkin ada waktu tertentu dimana negara itu akan makmur dan kelihatan sejahtera dan banyak orang kaya baru yang muncul,” ujar Bambang saat membuka dialog di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (11/1/2017).

“Namun yang sering dilupakan kejadian yang menguntungkan itu hanya bersifat sangat sementara,” lanjut pria kelahiran Jakarta, 50 tahun silam itu.

Indonesia memiliki pengalaman berharga saat ekonomi terlalu berpangku tangan kepada SDA, salah satunya yakni minyak. Pada 1980-an, APBN mengalami gejolak lantaran harga minyak anjlok. Padahal pada 1970-an, harga minyak melonjak tinggi akibat adanya embargo dari OPEC.

Saat itu, Indonesia yang belum lama melakukan eksplorasi mendapatkan keuntungan besar.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.