Muhammad Sufyan
Dosen

Dosen Digital Public Relations Telkom University, Mahasiswa Doktoral Agama dan Media UIN SGD Bandung. Salah seorang pemenang call for paper Konferensi Nasional Tata Kelola Pemilu Indonesia KPU RI 2019.

Komunikasi Pemasaran dan "Public Relations" Kopi Lokal

Kompas.com - 11/01/2017, 21:02 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorTri Wahono

DALAM tiga tahun terakhir, geliat kopi lokal di tanah air masif terjadi. Terutama pada kantong utama masyarakat urban, khususnya di Jakarta dan Bandung, ada denyut berkelanjutan di sana, baik dari sisi hulu hingga budaya pop.

Pernahkah kita merasakan, betapa posisi barista melesat naik daun, sehingga muncul keinginan generasi milenial untuk berlomba kursus menjadi barista. Ini sejalan munculnya berbagai produk ekonomi kreatif seperti film hingga laman terkait kopi.

Barista mutakhir bukanlah sekedar tukang kopi, ada definisi baru atas prestise sosial darinya. Ini berimbas kompetisi barista menjadi hal yang penting; Pemenangnya sematkan bintang depan kedai kopinya sehingga terjadi afirmasi sosial.

Secara simultan, kedai kopi lokal bak cendawan di musim penghujan pada kedua kota tersebut. Jangankan jalan protokol, sudut relatif mojok pun dibuka kedai kopi dan kerennya, pengujungnya pun banyak dan betah berdiam lama di sana.

Pertumbuhan eskalatif ini pun tambah membahagiakan karena mayoritas menggunakan kopi lokal pula di sana. Dari asal Indonesia barat, tengah, hingga timur, biji kopi terbaik ditawarkan dengan harga relatif lebih terjangkau dari kedai kopi impor.

Belum dengan perdagangan daring. Dalam setahun terakhir, ditemui banyak penjual ritel kopi lokal, baik arabika, robusta, atau house blend, yang menawarkan pada lapak grup marketplace, media sosial, hingga pesan instan.

Situasi di hilir ini digenapi sejumlah aktivitas hulu oleh para elite kebijakan. Ambil contoh di Provinsi Jawa Barat, yang sepanjang periode 2014-2016, total sudah memberi gratis benih kopi hingga lima juta kepada para petani.

Akhir tahun 2016 lalu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyerahkan bantuan dua juta benih kopi kepada 130 kelompok tani dari 11 kabupaten di Jawa Barat.

Tahun 2015, dua juta benih ke 65 kelompok tani di 11 kabupaten. Sedangkan tahun 2014, diserahkan satu juta benih kopi ke kelompok tani di enam kabupaten. Tahun 2017, ditargetkan lima juta benih kopi sehingga total 2014-2017 diberikan 10 juta benih kopi.

Rerata kopi diberikan jenis Arabika dengan dua jenis varietas. Pertama, varietas Sigara Lembang yang bisa ditanam di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Kedua, varietas Lini S795 yaitu diperuntukan ditanam ketinggian 700-1.200 meter dpl.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.