Kompas.com - 18/02/2017, 17:30 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir mendukung calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat saat debat ketiga calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/2/2017). Debat yang terdiri dari enam segmen ini memiliki subtema pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, anti-narkotika, dan kebijakan untuk disabilitas.
KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIGubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir mendukung calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat saat debat ketiga calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/2/2017). Debat yang terdiri dari enam segmen ini memiliki subtema pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, anti-narkotika, dan kebijakan untuk disabilitas.
|
EditorM Fajar Marta

SEMARANG, KOMPAS.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta agar edukasi dan literasi keuangan lebih gencar disampaikan kepada masyarakat. Tujuannya, agar kegiatan investasi fiktif atau bodong bisa ditekan.

Ganjar mengaku punya pengalaman menarik terkait kegiatan investasi fiktif. Saat masih menjadi anggota DPR RI, konstituennya banyak bercerita bahwa investasi tidak hanya menyasar kekayaan warga biasa, tapi juga kekayaan tempat ibadah.

“Saat saya masih di DPR, takmir masjid ikut masukkan duit yang dikelola untuk masjid ke dalam investasi, tapi ternyata itu (investasi) bodong. Berharap untung, tapi justru harus rugi dua kali,” kata Ganjar, di Semarang, Sabtu (18/2/2017)

Ganjar pun berharap agar pelaku industri keuangan bisa ikut mengurangi kegiatan investasi abal-abal itu. “Saya harap Kantor OJK bisa jadi tempat sarana belajar, sarana informasi, dan literasi keuangan yang bagus,” imbuhnya.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad mengatakan, saat ini literasi keuangan masih diperlukan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Kalangan UMKM masih banyak yang belum paham soal fasilitas pembiayaan dan kredit usaha rakyat.

Oleh karena itu, tim akses keuangan daerah diminta tidak segan turun dan menjelaskan agar pemahaman soal keuangan bisa meningkat.

“Masih banyak para pelaku UMKM yang belum paham apa itu KUR, fasilitas pembiayaan, dan mekanisme berhubungan dengan sektor keuangan. TPAKD saya harap agar terus sosialisasi, serta mencoba menciptakan model pembiayaan yang kreatif dan inovatif,” kata Muliaman kemarin. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.