Kompas.com - 21/06/2017, 05:00 WIB
Acara Groundbreaking PLTP Tulehu, Selasa (20/6/2017) dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI yang diwakili oleh Staf Khusus Wakil Ketua DPR RI Lily Chandra, Anggota Komisi VII Mercy Chriesty Barend, Gubernur Maluku yang diwakili Wakil Gubernur (Wagub) Zeth Sahuburua, Direktur Jenderal EBTKE ESDM yang diwakili Direktur Panas Bumi Yunus Saefulhak (tengah), Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati, Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua Haryanto WS, Kepala Sub Direktorat Teknik Benhur L Tobing, Perwakilan Kementerian Keuangan, BAPPENAS, jajaran Direksi PT Sarana Multi Infrastruktur dan perangkat Adat Tulehu dan Desa Suli. Dok. PLNAcara Groundbreaking PLTP Tulehu, Selasa (20/6/2017) dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI yang diwakili oleh Staf Khusus Wakil Ketua DPR RI Lily Chandra, Anggota Komisi VII Mercy Chriesty Barend, Gubernur Maluku yang diwakili Wakil Gubernur (Wagub) Zeth Sahuburua, Direktur Jenderal EBTKE ESDM yang diwakili Direktur Panas Bumi Yunus Saefulhak (tengah), Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati, Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua Haryanto WS, Kepala Sub Direktorat Teknik Benhur L Tobing, Perwakilan Kementerian Keuangan, BAPPENAS, jajaran Direksi PT Sarana Multi Infrastruktur dan perangkat Adat Tulehu dan Desa Suli.
Penulis Aprillia Ika
|
EditorAprillia Ika

AMBON, KOMPAS.com - Pengembangan panas bumi menjadi salah satu upaya pemerintah Indonesia mengembangkan bauran energi baru dan terbarukan (EBT) hingga 25 persen di 2025. Ke depan, Indonesia tidak perlu lagi terlalu bergantung pada energi fosil untuk memenuhi kebutuhan energinya.

Hal itu disampaikan Yunus Saefulhak, Direktur Panas Bumi, Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM, pada sambutannya di acara groundbreaking Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tulehu di Ambon, Selasa (20/6/2017).

"Harapannya dengan semakin banyak energi baru dan terbarukan yang dihasilkan, maka tarif listrik EBT akan lebih murah," ujarnya.

Menurut dia, saat ini potensi panas bumi di Indonesia termasuk yang besar di dunia. Produksi panas bumi Indonesia mencapai urutan tiga besar dunia, yakni sebanyak 1.698 MW. Sementara target di 2025 diperlukan setidaknya 7.000 MW.

"Artinya, masih kurang sekitar 5.500 MW lagi untuk mencapai target bauran energi. Ini bukan hal yang gampang," lanjutnya.

Dengan demikian, pihaknya menyambut baik grounbreaking PLTP Tulehu ini. Baik dari sisi tambahan daya yang dihasilkan, serta serapan investasinya.

"Proyek PLTP Tulehu ini sebesar 20 MW. Jika 1 MW saja investasinya memakan 4 juta dollar AS-5 juta dollar AS, bisa 100 juta dollar AS yang masuk ke Ambon. Oleh karena itu kami harapkan di Ambon akan tumbuh sentra-sentra ekonomi baru sehingga masyarakat juga berkembang perekonomiannya," ujar dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut dia, panas bumi merupakan sumber energi yang bersih dan terbarukan. "Jika 20 MW, katakan satu kepala keluarga dapat 450 Kw, ada sekitar 45.000 kepala keluarga yang dapat tersambung listrik. Dan ini terbarukan, tidak akan habis dan bersih," pungkasnya.

PLTP Tulehu

Sekadar informasi, PLN pada Selasa (20/6/2017) melakukan groundbreaking pembangunan PLTP Tulehu berkapasitas 2x10 MW. Proyek ini terletak di Desa Suli dan Tulehu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.