Deptan Diminta Tetapkan Perubahan Klinis Flu Burung

Kompas.com - 13/01/2009, 20:48 WIB
Editor

JAKARTA, SELASA — Departemen Pertanian diminta segera membuat pernyataan resmi mengenai munculnya fenomena baru tidak spesifiknya gejala klinis flu burung pada unggas. Penetapan adanya perubahan gejala klinis berdasarkan pembuktian ilmiah yang dilakukan lembaga penelitian di sejumlah perguruan tinggi itu diperlukan untuk mengubah strategi pengendalian flu burung pada unggas.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Selasa (13/1), pihaknya akan berkoordinasi dengan Departemen Pertanian.

"Keputusan resmi adanya perubahan gejala flu burung pada unggas merupakan wewenang Departemen Pertanian. Jadi, kami tinggal menunggu keputusan dari Deptan," kata Tjandra Yoga.

Untuk mencegah penularan flu burung pada manusia, pihaknya mengimbau agar semua unggas dikandangkan, tidak berkeliaran di daerah permukiman. Saat ini restrukturisasi perunggasan masih tidak berjalan secara optimal yang ditandai oleh belum efektifnya penataan kebersihan pasar-pasar tradisional, lalu lintas perdagangan unggas hidup lintas daerah, dan adanya peternakan unggas di kawasan permukiman.

Sejauh ini sumber penularan flu burung pada manusia adalah unggas, terutama ayam. Meski berbeda strainnya, tetapi virus flu burung pada unggas dan manusia sama-sama H5N1 sehingga terjadi penularan flu burung dari unggas kepada manusia. Oleh karena itu, pengendalian penyebaran virus flu burung pada unggas harus terus dilakukan secara intensif.

Saat ini ada dua pintu penanganan flu burung. Pertama, tim dari Depkes dan Deptan akan turun ke lapangan bila mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada orang yang dicurigai terinfeksi flu burung. Kedua, bila ada informasi ada banyak unggas yang mati atau positif flu burung, tim lintas departemen itu akan mengecek ke lokasi.  

19 meninggal

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut data Departemen Kesehatan, jumlah kasus flu burung pada manusia sepanjang tahun 2008 sebanyak 23 kasus dengan 19 orang di antaranya meninggal. Adapun jumlah kasus tahun 2006 sebesar 55 kasus, 45 meninggal, dan tahun 2007 sebanyak 42 kasus, dan 37 orang di antaranya meninggal. Jadi, ada penurunan kasus flu burung pada manusia, kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Berbagai upaya yang dilakukan Depkes antara lain melengkapi fasilitas 100 rumah sakit rujukan flu burung, melengkapi dan memfungsikan 2 laboratorium rujukan nasional flu burung yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan serta Lembaga Eijkman, 8 laboratorium regional dan 34 laboratorium subregional.

Upaya lain adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia terkait penanggulangan flu burung dengan mengadakan pelatihan atau sosialisasi flu burung pada petugas kesehatan.

Sebagaimana tercantum dalam Rencana Strategis Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza, oseltamivir disiapkan sebagai persediaan cadangan di Departemen Kesehatan dan provinsi untuk mengantisipasi pandemi influenza.

Obat itu juga didistribusikan ke Dinas Kesehatan, RS rujukan flu burung, RSUD, RS swasta yang pernah merawat kasus flu burung, dan puskesmas di seluruh provinsi di Indonesia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.