Gaya Kepemimpinan Layang-layang ala Agung Adiprasetyo

Kompas.com - 16/06/2009, 19:49 WIB
Editor

KOMPAS.com — Penduduk Indonesia pada dasarnya adalah orang baik sehingga para pemimpin perusahaan tidak perlu menerapkan gaya kepimpinan yang otoritatif atau pusing membuat aturan yang ketat bagi karyawannya. Berangkat dari pemikiran itulah, Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia, menerapkan gaya kepemimpinan yang disebutnya gaya kepemimpinan layang-layang.

Gaya layang-layang yang ia maksudkan adalah jangan pernah menganggap adalah orang yang bodoh sehingga harus selalu diawasi. Jangan pula menjadi pemimpin yang otoriter dan selalu mengawasi karyawannya.

"Karyawan bisa tidak produktif, karena pemimpin dianggap tidak manusiawi," jelasnya seusai peluncuran buku Indonesian Top CEO Wisdom: Precious Lessons, di Jakarta, Selasa (16/6).

Sebaliknya, tidak bagus pula jika karyawan dibiarkan begitu saja tanpa arahan, mereka akan merasa tidak diperhatikan. "Tinggal tarik ulur pada waktu yang tepat, jangan sampai lepas. Yang terpenting layang-layang harus tetap diberi angin," kata dia.

Ia menemukan teori tersebut dari pengalaman dirinya sendiri, Agung yang memulai kariernya sebagai petugas yang memberi cap pada koran, yang menjadi bukti iklan telah merasakan pahit getirnya menjadi karyawan.

"Pekerjaan awal saya sedikit di atas satpam. Seluruh keluhan karyawan dialami. Karena saya juga ikut mengalami bagaimana susahnya dulu merintis," ujarnya.

Selain terlalu otoritatif, menurut dia, kesalahan lain yang juga sering dilakukan para pemimpin adalah, mereka takut jika akan tergeser dari posisi yang ia duduki saat ini. Agung menerangkan, dari awal ia telah siap jika sewaktu-waktu dirinya dipindahkan.

"Kalau saya terus menjabat pada posisi yang sekarang, berarti saya tidak bisa naik jabatan. Kalau mau naik jabatan berarti harus siap untuk diganti," guraunya. Agung mengaku saat ini telah menyiapkan dua nama pengganti dirinya.

Lebih jauh dia menerangkan, karyawan harus terus diingatkan untuk mengikuti perkembangan zaman, kalau tidak kemampuan yang dimiliki seorang karyawan lama kelamaan tidak lagi dapat dipergunakan.

"Itu yang berbahaya, tugas dari CEO untuk membawa karyawannya agar bisa up to date pada zamannya. Makin banyak karyawan yang dibawa up to date pada zamannya, perusahaan akan bertahan baik, jika tidak ya gagal," terang dia.

Agung juga menegaskan pentingnya sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan. Oleh karena itu, ia terus mendorong seluruh karyawannya untuk terus berinovasi dan menguasai teknologi yang sedang berkembang.

"SDM ditempatkan pada posisi paling depan nomor satu, setelah itu semua masalah akan beres. Mau urusan marketing, keuangan semuanya beres. Makanya SDM hal yang paling penting," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.