Raup Ratusan Juta dari Rempah Dapur, Adi Ingin Ekspor ke Seluruh Dunia

Kompas.com - 15/01/2015, 10:32 WIB
Adi Pramudya KONTAN/DOK PRIBADIAdi Pramudya
EditorErlangga Djumena

Lalu terbersit di pikirannya bahwa ada potensi besar jika bisa menggarap lahan kosong tersebut. Selain itu, dia juga berpikir bahwa banyak anak muda yang lebih memilih untuk bekerja kantoran ataupun kalau berbisnis memilih sektor  fesyen. "Kalau semua anak muda begitu, lalu siapa yang mau jadi petani? Padahal semua orang butuh makan," kata dia.

Dari situ Adi bertekad untuk menekuni usaha agribisnis. Pada 2011, pria lulusan Teknik Industri ini menyewa lahan dengan luas tidak sampai 1 hektare (ha) seharga Rp 2,5 juta. Uang tersebut dia dapat dari hasil meminjam uang sang kakak.    

Komoditas pertama yang dia tanam adalah singkong. Alasannya, karena pemasaran singkong relatif mudah dan banyak produk turunannya.

Ternyata, harga jual hasil panen singkong yang tidak stabil di pasar. Ini membuat laba bersih yang dia dapat terlampau kecil. Lantas Adi mencoba peruntungan dengan menanam tanaman lain yaitu lengkuas di 2012 pada lahan seluas 2 ha. Adi membagi separuh lahan  untuk bibit dan sebagian untuk sampai panen. 

Lambat laun bisnis pembudidayaan tanaman rempah dapur seperti lengkuas, kunyit dan kencur yang dijalankan oleh Adi Pramudya menghasilkan keuntungan. Seiring berjalannya waktu Adi mampu memperluas lahan tanamnya menjadi 5 hektare (ha) di tahun 2013. Sekitar 4 ha tanah digunakan untuk menanam lengkuas dan sisanya untuk menanam kunyit.

Lantaran waktu panen yang cukup lama, yaitu delapan sampai sepuluh bulan, produksi tanamannya pun terbatas. Sehingga dia tidak bisa memenuhi permintaan dan pasokan ke  ke pasar induk secara rutin setiap hari.

Untuk memenuhi permintaan seputar Bogor, Adi kemudian membentuk kelompok tani supaya bisa terus memasok rempah-rempah. "Ini memudahkan dan memperlancar persediaan rempah-rempah di pasar jika diperlukan. Seperti misalnya kemarin ketika saya butuh kencur untuk ekspor ke Belanda dan Jerman," jelas Adi.

Pria berusia 22 tahun ini merasa tahun 2014 merupakan tahun perkembangan bisnisnya yang paling tajam. Tahun lalu, dia telah mengelola lahan seluas 11,5 ha. Sekitar 70 persen lahan masih dalam status sewa, dan 30 persen sisanya adalah lahan miliknya sendiri.

Pada pertengahan tahun ini, Adi berencana untuk membudidayakan tanaman jahe. Dia menyatakan, untuk menggarap 1 ha lahan tanaman jahe, membutuhkan modal sekitar Rp 70 juta-Rp 80 juta.

Hingga saat ini, masalah utama yang dihadapi Adi adalah fluktuasi harga komoditas. Kalau sedang panen raya, harga jual di pasar akan turun. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kerugian, Adi selalu melakukan evaluasi biaya-biaya yang telah dikeluarkan dan menekan biaya yang bisa dihemat. "Selain harga itu, cuaca juga terkadang menjadi masalah," kata dia.  

Halaman:


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X