Memanfaatkan Momentum "Reshuffle"

Kompas.com - 13/08/2015, 15:05 WIB
Lima menteri dan sekretaris kabinet dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015). INDRA AKUNTO/KOMPAS.comLima menteri dan sekretaris kabinet dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015).
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS - Pergantian menteri adalah momentum. Awalnya, peristiwa penting ini diharapkan menjadi counter-cycle yang mampu membalikkan arah perekonomian menjadi lebih baik. Namun, masuknya 4 orang baru ini justru terjadi dalam situasi regional dan global begitu buruk, setelah Tiongkok mengubah nilai referensi mata uangnya.

Momentum pergantian menteri seakan tenggelam oleh momentum yang lebih besar. Bahkan, menteri baru harus menghadapi perkembangan baru yang lebih rumit. Ada gejala semakin meningkatnya perang nilai tukar antarnegara besar di dunia.

Menko Perekonomian Darmin Nasution sudah harus berhadapan dengan kemerosotan nilai tukar dan pelemahan pasar. Pada hari pelantikan, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia meluncur ke level 4.400-an, sementara nilai tukar terus melemah ke kisaran Rp 13.800. Namun, patut dipahami, keduanya tak berhubungan satu sama lain dalam jangka pendek. Pasar keuangan (regional) tengah bergolak sejak kemarin, menyusul kebijakan Tiongkok memperlemah mata uangnya.

Beruntung Menko Perekonomian baru adalah mantan Gubernur BI dan pejabat karier di lingkungan Kementerian Keuangan. Menko Kemaritiman Rizal Ramli juga seorang ekonom yang tentu saja akrab dengan dinamika ekonomi. Sementara Menteri Perdagangan Thomas Lembong kebetulan juga pernah malang melintang di sektor keuangan. Diberitakan pernah menjadi CEO perusahaan investasi serta bankir di Deutsche Bank dan Morgan Stanley.

Perlu diuji

Ketiga figur baru di jajaran Kementerian Ekonomi dan kemaritiman ini diyakini memiliki kompetensi dan pengalaman memadai menghadapi gejolak ekonomi. Namun, ketiganya masih harus diuji kemampuannya mengelola birokrasi. Salah satu pertanyaan penting, apakah Menko Perekonomian dan Menko Kemaritiman mampu bekerja sama dalam irama yang sama.

Selain menghadapi tekanan eksternal yang brutal, perekonomian juga digerogoti kinerja domestik yang tak maksimal. Pertumbuhan kuartal II-2015 hanya 4,67 persen, mengecewakan karena lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Artinya, pelambatan ekonomi belum mencapai dasarnya. Pertemuan antara ketidakpastian global dan pelambatan ekonomi menjadi beban paling berat kabinet mendatang.

Selama ini, kita mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan mulai dilakukan pada September ini. Nyatanya, Tiongkok mengeluarkan kebijakan yang tak terpikirkan sebelumnya. Langkah Tiongkok dengan sengaja memperlemah mata uangnya sebesar 1,9 persen tak bisa dilepaskan dari pelambatan ekonomi mereka. Guna memacu ekonomi domestik, Tiongkok mengubah referensi nilai tukarnya supaya ekspor terdongkrak.

Namun, kebijakan ini menimbulkan implikasi negatif bagi negara lain. Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat akan terpukul. Sebagai pengekspor barang konsumsi kelas atas, Eropa akan makin sulit bangkit, sementara AS yang mulai pulih bisa turun kembali. Akibatnya, kenaikan suku bunga The Fed sangat mungkin ditunda. Perekonomian global benar-benar menghadapi ketidakpastian tingkat tinggi.

Bagaimana momentum pergantian menteri ini bisa keluar dari bayang-bayang regional dan global ini?

Halaman:
Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X