Raja Arab Saudi Bidik Investasi di Sejumlah Negara

Kompas.com - 26/02/2017, 11:45 WIB
REUTERS/Saudi Press Agency Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz diapit Putra Mahkota Mohammed bin Nayef (kiri) dan Wakil Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (kanan) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (25/4/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Raja Salman dari Arab Saudi memulai rangkauan kunjungannya ke kawasan Asia selama tiga pekan pada hari ini, Minggu (26/2/2017). Kunjungan Raja Salman diyakini terkait pencarian akan investasi dan keahlian teknikal.

Pasalnya, eksportir minyak terbesar dunia ini sedang berupaya mendiversifikasi ekonominya.

Anjloknya harga minyak membuat ekonomi Arab Saudi merosot tajam, akibatnya mulai dari jebolnya anggaran, dicabutnya berbagai subsidi, dan mencari pinjaman ke lembaga internasional.

Mengutip Gulf News, Minggu, kunjungan Raja Salman ke Jepang dan Indonesia adalah yang pertama kali sejak monarki Arab Saudi terakhir mengunjungi kedua negara hampir 50 tahun silam.

Beberapa negara lain yang akan dikunjungi Raja Salman adalah Malaysia, China, dan Maladewa.

"Kunjungan ini akan menjadi yang pertama dalam 46 tahun. Sehingga, secara simbolis ini menjadi sangat penting," ujar Shigeto Kondo, periset di The Institute of Energy Economics di Jepang.

Negara tujuan pertama Raja Salman adalah Malaysia. Monarki Arab Saudi yang terakhir kali mengunjungi Malaysia adalah mendiang Raja Abdullah pada 11 tahun lalu.

Akan tetapi, ketika mengunjungi Jepang dan Indonesia, Raja Salman diekspektasikan mengincar hubungan ekonomi yang lebih kuat.

Tidak heran, karena Jepang adalah ekonomi terbesar ketiga dunia dan Indonesia adalah negara dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia.

Dengan demikian, kunjungan Raja Salman ke Jepang dan Indonesia dianggap sebagai poin terpenting dalam rangkaian kunjungannya ke Asia.

Pada tahun 2016 lalu, Arab Saudi memulai upaya diversifikasi ekonomi dengan melakukan berbagai reformasi ekonomi dan sosial. Upaya ini dinamakan Visi 2030.

Dalam Visi 2030 tersebut, Arab Saudi mengejar pengembangan industri non-minyak, usaha kecil dan menengah (UKM), dan basis investasi yang lebih luas. Semua upaya tersebut membutuhkan serapan tenaga kerja lebih banyak pula.

Di Jepang, Arab Saudi mengincar pengembangan ekonomi terbarukan, hiburan, setktor digital, dan sebagainya. Arab Saudi pun mengharapkan kerja sama investasi di berbagai sektor lainnya.

"Jepang dan Arab Saudi tekah mulai bekerja sama dalam penciptaan lebih banyak ikatan ekonomi yang beragam di antara keduanya. Adaoun Jepang mencari keamanan energi, tentunya dari pemasok minyak utama," tutur Makio Yamada, periset di King Faisal Centre for Research and Islamic Studies di Riyadh, Arab Saudi.

Kabarnya kabinet Arab Saudi telah menyetujui rangkaian nota kesepahaman kerja sama ekonomi dengan berbagai negara Asia. Ini termasuk proposal kerja sama Arab Saudi dan Indonesia terkait pengembangan UKM.

Adapun di Malaysia, Arab Saudi mengincar kerja sama di bidang sumber daya manusia, industri, dan perdagangan. Di China, Arab Saudi diprediksi bakal memperkuat kerja sama dalam pemurnian minyak yang dioperasikan Saudi Aramco dan Sabic.

Kompas TV Rencana kedatangan raja Arab Saudi, Salman Bin Abdulaziz Al-Saud ke Indonesia pekan depan menegaskan adanya kerjasama yang semakin kuat antar kedua negara.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAprillia Ika

Close Ads X