Kerap Disebut Anak Emas Pemerintah, Waskita Beberkan Hal Ini

Kompas.com - 09/07/2019, 14:48 WIB
Direktur Utama PT Waskita Karya Tbk I Gusti Ngurah Putra (kiri) dalam CEO Talk di Menara Kompas Jakarta, Selasa (9/7/2019). FIKA NURUL ULYADirektur Utama PT Waskita Karya Tbk I Gusti Ngurah Putra (kiri) dalam CEO Talk di Menara Kompas Jakarta, Selasa (9/7/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini, perusahaan di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kerap dianggap manja dan anak emas pemerintah. Namun, Direktur Utama PT Waskita Karya Tbk I Gusti Ngurah Putra, petinggi salah satu perusahaan BUMN menampik hal itu.

Menurutnya, perusahaan BUMN termasuk Waskita kerap kali mengambilalih proyek jalan tol yang tidak bisa diselesaikan oleh swasta dari bertahun-tahun lalu.

"Mari kita berpikir secara jernih, dalam 4 tahun belakangan ini Waskita mengambilalih jalan tol yang tidak selesai-selesai. Jadi manjanya di mana? Pihak lain tidak ada yang mau kerjain, itu semua kita yang ambil alih," kata I Gusti Ngurah Putra dalam CEO Talk di Menara Kompas Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Dia pun menyebut beberapa tol yang diambil alih, seperti Tol Becakayu, Trans Jawa, dan Tol Bocimi (Bogir-Ciawi-Sukabumi).

Kendati mengambil alih proyek jalan tol yang tak selesai, pria yang kerap disapa Putra ini mengaku tak semua proyek akan diambil alih mengingat perusahaan swasta juga harus berkembang.

"Kami pernah dipanggil Menteri PUPR. Menteri bilang semua tidak boleh dikerjakan BUMN karena perusahan lain berisiko mati. Kita tidak boleh ambil proyek dengan tender awal di bawah Rp 100 miliar. Ini terlihat pemerintah sangat care dengan pihak swasta," ucap Putra.

Putra bahkan menyatakan, Waskita sudah tidak lagi mengambil proyek di bawah Rp 200 miliar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jangankan Rp 100 miliar, karena Waskita sibuk dengan proyeknya sendiri, di bawah Rp 200 miliar sudah enggak ambil kita," jelas Putra.

Menurut Putra, jika Waskita tak mengambilalih proyek jalan tol seperti itu, labanya tak akan berkembang sepesat saat ini. Putra menyebut, laba perusahaan melonjak sekitar Rp 15 triliun sejak tahun 2014 dengan pembayaran dividen rata-rata 20 persen mencapai Rp 2,6 triliun.

"Kalau Waskita Karya tidak mengambil alih tol itu labanya cuma Rp 300 miliar, paling labanya hanya naik 10 persen. Tapi, dari tahun 2014 total laba kira-kira melonjak Rp 15 triliun. Dividen yang dibayar kalau rata-ratanya 20 petsen sudah Rp 2,6 triliun. Kalau dengan konvensional, 10 tahun belum tentu bisa. Paling-paling 10 tahun baru Rp 2-3 triliun," jelas Putra.

"Sementara untuk total produksi dari tahun 2014, Waskita Karya kira-kira Rp 120 triliun at least, PPN-nya Rp 12 triliun," lanjutnya.

Adapun ke depannya, Waskita bakal mengembangkan sayapnya ke kancah internasional dengan membidik Laos dan Filipina untuk proyek kereta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.