Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 02/08/2013, 09:54 WIB
Didik Purwanto

Penulis


JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga semester I-2013 hanya 5,8 persen. Nilai ini lebih rendah dari prediksi pemerintah semula sebesar 6,1 persen.

Akan tetapi, angka tersebut sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional berada di level  5,8 persen - 6,2 persen persen.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, perlambatan ekonomi Indonesia ini seiring dengan perkembangan ekonomi global yang juga sama-sama melemah. Amerika Serikat juga mengoreksi pertumbuhan ekonominya dari 1,9 persen menjadi 1,7 persen. Sementara itu, China mengoreksi dari 8,1 persen menjadi 7,8 persen.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini lebih rendah dibanding pencapaian di semester I-2012 yang sebesar 5,92 persen," kata Suryamin saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (2/8/2013).

Suryamin menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga semester I-2013 ini tumbuh 5,8 persen menjadi Rp 2.210,1 triliun. Bila dihitung dari harga konstanta menjadi Rp 688,9 triliun.

Secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut sektornya berasal dari listrik, gas dan air bersih 4,84 persen; perdagangan, hotel, dan restoran 4,5 persen; dan sektor konstruksi 4,11 persen.

"Khusus untuk sektor perdagangan, meski mengalami perlambatan tapi untuk perdagangan dalam negeri terus melonjak, khususnya dari sektor manufaktur," tambahnya.

Sementara itu secara tahunan, kontribusi pertumbuhan ekonomi tertinggi berasal dari sektor pengangkutan dan komunikasi 11,46 persen; keuangan, real estate, dan jasa perusahaan 8,07 persen; dan konstruksi 6,88 persen.

Berdasarkan pengeluaran secara kuartalan, konsumsi rumah tangga naik 1,5 persen, konsumsi pemerintah 30,78 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 5,17 persen, ekspor 2,72, dan impor 10,03 persen.

"Khusus untuk ekspor, secara volume perdagangan kita masih bagus, tapi secara value mengalami penurunan, khususnya karena harga komoditas yang mengalami koreksi. Apalagi kami mencatat ada 14 harga komoditas yang mengalami penurunan," tambahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com