Ada IORA, Ekspor Makanan Minuman Diestimasi Lewati Target

Kompas.com - 13/03/2017, 21:00 WIB
Presiden Joko Widodo membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-20 Indian Ocean Rim Association (IORA) Leaders Summit 2017 di Jakarta Convention Center, Senayan, Selasa (7/4/2017). IhsanuddinPresiden Joko Widodo membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-20 Indian Ocean Rim Association (IORA) Leaders Summit 2017 di Jakarta Convention Center, Senayan, Selasa (7/4/2017).
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Negara Lingkar Samudra Hindia atau Indian Ocean Rim Association ( IORA) membuka pasar baru untuk ekspor bagi Indonesia.

Dalam hal ini, industri makanan dan minuman (mamin) dinilai bakal menjadi industri yang paling diuntungkan dari pembukaan pasar baru di kawasan Asia-Afrika pasca kerja sama IORA.

Thomas Darmawan, Ketua Komite Tetap Industri Makanan dan Protein Kamar Dagang Indonesia (Kadin) menuturkan, kawasan IORA yang dihuni sekitar 2,7 miliar penduduk. Sehingga, membutuhkan pasokan makanan yang besar.

Apalagi dengan pertumbuhan ekonomi kawasan IORA yang semakin meningkat, variasi permintaan akan makanan termasuk makanan olahan akan meningkat.

"Kementerian Perdagangan punya target sendiri pertumbuhan ekspor mamin antara 7 persen-8 persen. Saya pikir bisa di atas 8 persen tahun ini,” ujar Thomas, Jumat (10/3/2017).

Menurutnya, selain India, Afrika Selatan juga dapat dibidik dalam lingkup kerja sama, terutama untuk industri mamin.

"Afrika Selatan bisa menjadi pintu masuk ke kawasan Afrika lainnya. Sedangkan Asia Selatan bisa dimanfaatkan untuk masuk ke negara Rusia Tengah, seperti Belarus, Kazakstan," kata dia.

Thomas menilai ekspor makanan olahan bisa menjadi prioritas mengingat jarak negara-negara yang memerlukan ongkos transportasi yang tidak sedikit.

"Kalau segar kan cold storage harus siap, yang paling bisa kita lakukan ialah buah-buahan atau ikan. Tapi ke depan ekspor itu sudah dalam bentuk olahan, bukan bentuk barang mentah," lanjut dia.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) sebelumnya menargetkan ekspor produk mamin olahan nasional tahun ini tumbuh 16 persen menjadi 7 miliar dollar AS dari realisasi tahun 2016 lalu sebesar 6 miliar dollar AS.

Dengan pertumbuhan sebesar itu, industri mamin diprediksi bakal menjadi motor pertumbuhan ekspor non-migas tahun ini yang dipatok sebesar 5,6 persen. Saat ini, kontribusi produk mamin terhadap ekspor non migas mencapai 35 persen.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan, pasar produk makanan dan minuman di negara-negara kawasan IORA diperkirakan potensinya mencapai 28,5 miliar dollar AS.

Meski begitu, saat ini ekspor produk makanan dan minuman asal Indonesia ke negara-negara IORA baru senilai 1,39 miliar dollar AS atau hanya 4,89 persen dari potensi yang ada.

"Jadi masih terbuka peluang yang cukup besar untuk pertumbuhan ekspor ke negara-negara IORA," ucapnya. (Hendra Gunawan)



Sumber KONTAN

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X