Bank Mandiri Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI 5,22 Persen di 2019

Kompas.com - 15/05/2019, 18:44 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomiTHINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh positif pada tahun 2019. Kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2019 diperkirakan akan mencapai 5,22 persen.

Hal ini mengacu pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu tumbuh sebesar 5,17 persen di 2017 meski dihimpit berbagai dinamika ekonomi dunia. Pencapaian itu lebih tinggi dari pertumbuhan 2017 yaitu 5,07 persen.

Menurut dia, peningkatan pertumbuhan tahun inu dipicu oleh pertumbuhan tiga bulanan. Terutama beberapa faktor musiman seperti bergesernya masa musim panen dari bulan Maret ke bulan April, bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, masa libur sekolah dan tahun pendidikan baru, pemberian THR, serta gaji ke-13 bagi PNS.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Sulit Capai Target, Ini Penyebabnya

“Kami melihat potensi aliran masuk PMA akan kembali tumbuh pada paruh kedua tahun 2019, seiring dengan semakin meredanya ketidakpastian akibat tahun politik dan pengumuman kabinet kerja yang baru," ujar Andry dalam keterangan tertulis, Rabu (15/5/2019).

Selain itu, realisasi belanja pemerintah juga diprediksi tumbuh di dua kuartal terakhir. Pada kuartal pertama 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stabil sebesar 5,07 persen, dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yaitu 5,06 persen.

Daya beli masyarakat di kuartal I 2019 juga terjaga baik, yang ditunjukkan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tercatat 5,01 persen, meningkat dari 4,95 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Meski begitu, kata Andry, risiko penurunan permintaan dunia dan meningkatnya tensi perang dagang AS dan Tiongkok akan menjadi risiko bagi ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi.

Baca juga: Menilik Dampak Pemilu 2019 terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

"Pelemahan permintaan dunia akibat menurunnya pertumbuhan negara-negara besar seperti Tiongkok dan Uni Eropa menyebabkan neraca perdagangan barang dan jasa terkoreksi," kata Andry.

Pertumbuhan ekspor turun menjadi -2,08 persen di kuartal I 2019 dibanding periode yang sama tahun 2018 yang tercatat tumbuh 5,94 persen (yoy). Upaya pemerintah dalam mengendalikan impor juga mendorong capaian positif impor sebesar 7,75 persen.

Terkait konsumsi pemerintah, tahun lalu, pertumbuhan konsumsi pemerintah tercatat meningkat dari 2,71 persen di kuartal I 2018 menjadi 5,21 persen di kuartal I 2019. Andry mengatakan, pertumbuhan tersebut didukung persiapan Pemilu 2019 dan realisasi bantuan sosial yang meningkat.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Dunia Lemah, Defisit Neraca Perdagangan RI Bisa Melebar

Meski demikian, hal itu tidak diikuti oleh realisasi pembentukan modal, di mana pertumbuhan PMTB tercatat melemah dari 7,94 persen di kuartal I 2018 menjadi 5,03 persen di kuartal I 2019.

“Hal ini karena terjadi perlambatan pertumbuhan realisasi penanaman modal, terutama PMA yang terkontraksi sebesar 0,9 persen. Pada tahun politik ini, investor cenderung bersikap wait and see di tahun politik,” sebut Andry.




Close Ads X