Laba Hangat dari Steak Martabak

Kompas.com - 01/04/2009, 10:33 WIB
Editor

KOMPAS.com -  Martabak merupakan menu yang sudah akrab di lidah kita. Makanan ini paling enak dinikmati saat masih hangat. Selama ini, Anda mungkin hanya mengenal dua jenis martabak: yakni martabak manis dan telur. Tapi, ini bukan berarti tak ada jenis martabak lain lagi.

Paulus Gunawan mempunyai ide membuat martabak yang unik di kafenya. Ia sengaja menyajikan martabak sebagai menu utama. Pria berusia 38 tahun ini juga menyajikan martabak di atas loyang panas seperti steak. la menamakannya steak martabak atau martabak hot plate.

Tak heran, di kafe miliknya yang bernama Martabak House, orang menik mati martabak ibarat makan nasi. "Di sini, orang makan martabak tidak dibawa pulang, tapi dimakan di tempat," ungkap Paulus.

Martabak House menyajikan beragam menu martabak, seperti Martabak Ufo, Steak Martabak Bakar, Crispy Martabak, Martabak Mayo, dan sejenisnya. "Semua bermenu martabak, tapi punya bentuk dan cita rasa unik. Misalnya, Crispy Martabak, yakni martabak telor tapi dibikin garing dengan resep tepung khusus," beber Paulus yang memajang tulisan "Cara asik menikmati martabak" di gerainya.

Berkat keunikan martabak ini, kini Paulus mendulang omzet gede. Tiap bulan, ia bisa mengantongi omzet sebesar Rp 120 juta dari usaha Martabak House di Semarang. Padahal, ia baru mendirikan usaha ini pada Juni 2007. "Sebelumnya, saya sudah jualan martabak di gerobak sejak 1994. Jadi, saya paham betul resep martabak," paparnya. Setelah sukses di Semarang, pada Desember 2008, Paulus membuka cabang Martabak House di Yogyakarta.

Melihat minat masyarakat semakin tinggi, sejak Februari lalu, Martabak House melebarkan sayap dengan menawarkan konsep kemitraan. "Sudah ada lima orang berminat menjadi mitra, tapi saya tolak," tutur Paulus. Sebab, para talon mitra mengajukan lokasi usaha yang tidak cocok. Ia yakin, bisnis ini sukses jika berada di lokasi strategis.

Bila Anda berminat jadi mitra, selain punya lokasi usaha yang strategis, Paulus mematok beberapa syarat lain. Pertama, menyiapkan modal sebesar Rp 25 juta sebagai biaya kerjasama selama lima tahun. Selain itu, Anda juga harus merogoh Rp 40 juta untuk investasi peralatan dapur, seperti kompor, tungku, dan sejenisnya. "Bila ditotal, investasi awal mencapai Rp 100 juta sampai Rp 150 juta," jelasnya.

Paling cepat setahun

Dengan dana investasi awal sebesar itu, mitra bakal mendapat fasilitas peralatan lengkap, pelatihan karyawan, dan bahan baku awal buat usaha senilai Rp 10 juta.

Nantinya, jika bisnis berjalan, mitra wajib setor biaya royalti sebesar 5 persen dari omzet bulanan. Selain itu, agar rasa tetap standar, mitra harus membeli tepung martabak ke Paulus. Harga per bungkus tepung yang cukup buat sekitar tujuh porsi martabak adalah Rp 3.000 - Rp 3.500.

Paulus memperkirakan, mitra bisa balik modal paling cepat setahun dan paling lama dua tahun. Syaratnya, pendapat kotor mitra stabil Rp 4 juta sehari. Jika kurang dari itu atau pengeluarannya lebih mahal, waktu balik modal lebih lambat. Ini terjadi jika mitra membuka usaha di Jakarta dan sekitarnya.

Martabak House Paulus di Semarang bisa jadi gambaran. Saat ini, omzet per bulan mencapai Rp 120 juta. la mengeluarkan Rp 17 juta per tahun buat sewa tempat. Selain itu, ia menghabiskan 50 persen  dari omzet per bulan buat belanja bahan baku dan menggaji 15 karyawannya. "Laba bersih sekitar 20 persen," ungkapnya. (Dessy Rosalina/Kontan)

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X