Sengketa TPI, Jangan Korbankan Karyawan

Kompas.com - 24/07/2010, 11:23 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com - Sengketa kepemilikan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) masih terus berlanjut. Kisruh ini kembali memanas setelah pemilik TPI terdahulu, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), mengklaim memiliki seluruh saham setelah keluarnya Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Hukum dan HAM, yang membatalkan SK sebelumnya mengenai kepemilikan saham perusahaan tersebut.

Namun, pihak Media Nusantara Citra (MNC) bersikukuh, secara legal penguasaan TPI masih di tangannya.

Anggota Komisi III, Bambang Soesatyo, mengatakan, sengketa ini harus diselesaikan secara damai dan tidak mengorbankan karyawan.

"Ini bukan persoalan besar, tapi juga bukan persoalan kecil yang menyangkut ribuan karyawan TPI. Tetapi, kami mengimbau kedua pihak untuk mengedepankan hak-hak karyawan," kata Bambang, dalam diskusi Polemik Trijaya FM "Mengupas Kasus TPI", di Jakarta (24/7/2010).

Dia juga mengimbau, agar penyelesaian sengketa tersebut tidak diselesaikan di pengadilan. "Cari titik temulah. Kalau di pengadilan, akan panjang prosesnya," ujar politisi Partai Golkar ini.

Kedua kubu, baik pihak Tutut maupum bos MNC, Harry Tanoe, bersikukuh dengan pendiriannya masing-masing. Kuasa Hukum Tutut, Harry Ponto, mengatakan, dengan SK yang keluar 8 Juli 2010, kepemilikan TPI dikembalikan ke kliennya.

Sebaliknya, pihak MNC menduga ada pemalsuan terhadap isi surat tersebut. Sebab, berdasarkan pernyataan Menkumham Patrialis Akbar, kementeriannya tidak dalam posisi menyatakan siapa yang menjadi pemilik sah.

"Lagi-lagi ini soal ketidaktegasan penegak hukum. Ada surat yang keluar berbeda di sebuah kementerian. Ketika rapat kerja dengan menteri, Menkumham belum memutuskan siapa pemiliknya dan itu wilayahnya pengadilan, bukan kementerian. Itu kata menteri di Komisi III," kata Bambang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.