Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelemahan Rupiah Berlanjut

Kompas.com - 25/08/2012, 02:42 WIB

Jakarta, Kompas - Tekanan pelemahan nilai tukar atau depresiasi rupiah atas dollar Amerika Serikat terus berlanjut. Sentimen negatif bersumber dari ketidakpastian perkembangan perekonomian global, termasuk pelambatan perekonomian China.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) hari Jumat (24/8), nilai rupiah ada di level Rp 9.504 per dollar AS. Melemah 9 poin dari posisi sehari sebelumnya. Rupiah juga melemah dari posisi sebulan lalu pada level Rp 9.488 per dollar AS.

Dari catatan BI, sepanjang Juli, nilai rupiah secara point-to-point melemah 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya (secara bulanan) ke level Rp 9.445 per dollar AS. Atau rata-rata melemah 0,29 persen (secara bulanan) menjadi Rp 9.433 per dollar AS.

BI menyatakan, tekanan atas nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global terkait krisis Eropa, pemulihan ekonomi AS yang masih rentan, serta pelambatan ekonomi China. Di sisi lain, ekspor yang melambat juga menimbulkan tekanan atas nilai rupiah.

Dalam pidato pengantar RAPBN 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kondisi yang sama. Sampai dengan Juli 2012, rata-rata nilai tukar rupiah tercatat Rp 9.241 per dollar AS. Melemah sekitar 6,04 persen bila dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama 2011 sebesar Rp 8.715 per dollar AS.

Nilai tukar rupiah sebagai basis perhitungan RAPBN 2013 adalah Rp 9.300 per dollar AS. Tingkat inflasi 4,9 persen.

Sentimen negatif masih menggelayuti perekonomian global. Spekulasi stimulus baru di AS memudar, sementara belum jelas arah penyelesaian krisis utang di Uni Eropa (UE). Pelambatan perekonomian China juga menjadi perhatian investor global.

Bahan baku domestik

Pelemahan nilai rupiah atas dollar AS menguntungkan eksportir yang mengandalkan bahan baku dalam negeri. Disayangkan, sebagian besar industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Polah Tjahyono yang dihubungi di Yogyakarta, mengatakan, ”Eksportir berbahan baku dalam negeri, seperti mebel, sesungguhnya berpeluang besar untuk mengeruk keuntungan dari pelemahan nilai rupiah,” tegas Ambar.

Ambar memandang jatuhnya pasar ekspor dan pelemahan rupiah yang masih normal menjadi sinyal pasar ekspor menguat kembali. Bagi perajin mebel dan kerajinan yang tidak bergantung pada bahan baku impor, mengharapkan pelemahan rupiah berlanjut hingga Rp 10.000 per dollar AS.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Benny Soetrisno juga sependapat. ”Pelemahan rupiah sangat menguntungkan eksportir terutama berbahan baku lokal. Pemerintah tentu punya perhitungan tersendiri sehingga pelemahan rupiah yang terjadi saat ini terkesan hanya bersifat sementara,” kata Benny. (BEN/OSA)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Akhirnya, Bea Cukai Bebaskan Bea Masuk Alat Belajar SLB yang Tertahan Sejak 2022

Akhirnya, Bea Cukai Bebaskan Bea Masuk Alat Belajar SLB yang Tertahan Sejak 2022

Whats New
Sri Mulyani Minta Ditjen Bea Cukai Perbaiki Layanan Usai 3 Keluhan Terkait Pelayanan Viral di Medsos

Sri Mulyani Minta Ditjen Bea Cukai Perbaiki Layanan Usai 3 Keluhan Terkait Pelayanan Viral di Medsos

Whats New
Menuju Indonesia Emas 2045, Pelaku Usaha Butuh Solusi Manajemen SDM yang Terdigitalisasi

Menuju Indonesia Emas 2045, Pelaku Usaha Butuh Solusi Manajemen SDM yang Terdigitalisasi

Whats New
Jadi Sorotan, Ini 3 Keluhan Warganet soal Bea Cukai yang Viral Pekan Ini

Jadi Sorotan, Ini 3 Keluhan Warganet soal Bea Cukai yang Viral Pekan Ini

Whats New
Perhitungan Lengkap Versi Bea Cukai soal Tagihan Rp 31 Juta ke Pembeli Sepatu Seharga Rp 10 Juta

Perhitungan Lengkap Versi Bea Cukai soal Tagihan Rp 31 Juta ke Pembeli Sepatu Seharga Rp 10 Juta

Whats New
Berapa Gaji dan Tunjangan Pegawai Bea Cukai Kemenkeu?

Berapa Gaji dan Tunjangan Pegawai Bea Cukai Kemenkeu?

Work Smart
Dukung 'Green Building', Mitsubishi Electric Komitmen Tingkatkan TKDN Produknya

Dukung "Green Building", Mitsubishi Electric Komitmen Tingkatkan TKDN Produknya

Whats New
Kemenhub Cabut Status 17 Bandara Internasional, Ini Alasannya

Kemenhub Cabut Status 17 Bandara Internasional, Ini Alasannya

Whats New
Kinerja Pegawai Bea Cukai 'Dirujak' Netizen, Ini Respon Sri Mulyani

Kinerja Pegawai Bea Cukai "Dirujak" Netizen, Ini Respon Sri Mulyani

Whats New
Pembatasan Impor Barang Elektronik Dinilai Bisa Dorong Pemasok Buka Pabrik di RI

Pembatasan Impor Barang Elektronik Dinilai Bisa Dorong Pemasok Buka Pabrik di RI

Whats New
Sukuk Wakaf Ritel adalah Apa? Ini Pengertian dan Karakteristiknya

Sukuk Wakaf Ritel adalah Apa? Ini Pengertian dan Karakteristiknya

Work Smart
Viral Mainan 'Influencer' Tertahan di Bea Cukai, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Viral Mainan "Influencer" Tertahan di Bea Cukai, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Whats New
Harga Emas ANTAM: Detail Harga Terbaru Pada Minggu 28 April 2024

Harga Emas ANTAM: Detail Harga Terbaru Pada Minggu 28 April 2024

Spend Smart
Harga Emas Terbaru 28 April 2024 di Pegadaian

Harga Emas Terbaru 28 April 2024 di Pegadaian

Spend Smart
Investasi Aman, Apa Perbedaan SBSN dan SUN?

Investasi Aman, Apa Perbedaan SBSN dan SUN?

Work Smart
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com