Kompas.com - 04/09/2013, 07:46 WIB
Pekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor. 
KOMPAS/PRIYOMBODOPekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor.
EditorErlangga Djumena


Oleh: Windoro Adi
KOMPAS.com -
”Rumah ini kami persembahkan untuk para perajin tempe Indonesia, khususnya yang di Bogor. Di rumah ini, kami melakukan standardisasi proses pembuatan tempe yang higienis dengan kualitas proses dan bahan baku kelas satu,” tutur Suheri, Ketua Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia Bogor, Sabtu (31/8/2013) sore.

Rumah Tempe Indonesia yang beralamat di Jalan Raya Cilendek Nomor 27, Bogor, Jawa Barat, ditujukan untuk memajukan industri dan pasar tempe di Tanah Air. Jika ada peluang dan kemampuan, pasar tempe dunia akan dikuasai. Ironisnya, kata Sekretaris Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia (Kopti) Bogor Endang Maulana, yang lebih banyak datang dan belajar membuat tempe di sini justru orang asing.

Pendirian rumah tempe pada 6 Juni 2012 ini, menurut Endang, dibantu Mercy Corps, satu lembaga swadaya masyarakat Uni Eropa. Setelah rumah tempe berproduksi, Mercy Corps mengajak peminat tempe dari banyak negara di Eropa datang dan belajar membuat tempe.

Lewat situs web https://sites.google.com/a/id.mercycorps.org/scope-indonesia, Mercy Corps memperkenalkan rumah tempe kepada dunia. Maka berdatanganlah orang-orang asal negara-negara Timur Tengah, Thailand, Malaysia, Singapura, dan China ke Indonesia.

Mereka belajar membuat tempe di rumah tempe. Berbekal keterampilan dari rumah tempe itulah sebagian dari mereka kini membuka restoran tempe di negara masing-masing.

Usaha mereka cepat maju karena harga kedelai di negara mereka stabil. Bahkan, karena aktivitas produksi tempe dan tahu di China berkembang, negeri ini tak lagi menjadi pengekspor kedelai. ”Posisi China bahkan seperti halnya kita sekarang ini. Mereka juga mengimpor kedelai dari AS dengan jumlah lebih besar,” ujar Endang saat ditemui di Rumah Tempe Indonesia, Sabtu sore lalu.

Sebagai perajin, Endang menduga tak terkendalinya harga kedelai impor karena adanya permainan kartel para importir kedelai di Indonesia. ”Kalau sudah begini, Rumah Tempe Indonesia ini untuk siapa?”

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Endang malah khawatir, jangan-jangan para produsen yang pernah belajar di rumah tempe justru menjadi pengekspor tempe ke Indonesia. ”Mudah-mudahan tidak ada istilah tempe bangkok seperti halnya durian bangkok. Sama-sama asli Indonesia, tetapi Bangkok punya nama,” sindir Endang.

Menengah atas

Endang menjelaskan, Rumah Tempe Indonesia didirikan dengan modal Rp 500 juta. Diharapkan dalam waktu empat tahun mendatang modal itu sudah dapat kembali. ”Untuk pasar reguler, setiap hari kami menghabiskan satu kuintal kedelai, sedangkan untuk pasar khusus, kami menghabiskan rata-rata 2,5 kuintal kedelai,” ucap Endang.

Pasar reguler Rumah Tempe Indonesia adalah pasar kelas menengah ke atas, sedangkan pasar khusus kedelai sampai sekarang baru melayani satu perusahaan farmasi yang memproduksi bubur tempe.

Harga tempe dari Rumah Tempe Indonesia memang lebih mahal karena biaya produksi dan bahannya lebih mahal. Selisih harga untuk setiap ukuran rata-rata Rp 3.000 per potong. Tempe ukuran 12 x 20 sentimeter seberat 450 gram dibanderol Rp 7.000. Tempe ukuran 18 x 20 seberat 700 gram dihargai Rp 10.000. Adapun tempe ukuran 14 x 30 seberat 800 gram dibanderol Rp 11.000 dan tempe ukuran 12 x 15 seberat 300 gram dihargai Rp 5.000.

”Ragi yang kami gunakan ragi murni. Semua peralatan yang kami gunakan terbuat dari stainless steel dengan standar food grade dengan proses pengerjaan dijamin kebersihannya. Oleh karena itu, batas kedaluwarsa tempe produksi kami bisa sampai lima hari di kulkas,” tutur Endang.

Bahan imporUntuk pasar reguler, Rumah Tempe Indonesia, seperti halnya para perajin tempe di Tanah Air, masih menggunakan kedelai hasil rekayasa genetik dari Amerika Serikat. ”Kami hanya membeli kedelai nonrekayasa genetik untuk pasar khusus kami yang dibeli satu perusahaan farmasi untuk makanan bayi berupa bubur tempe,” ungkap Endang.

Tempe memang sangat baik untuk melindungi pencernaan bayi. Proteinnya sudah terurai menjadi asam amino, kata Endang, sehingga lebih mudah dicerna tubuh. Tempe memiliki kandungan vitamin B1, B2, B3, asam pantonenat, B6, biotin, asam folat, B12, dan vitamin A yang bermanfaat untuk tubuh. Selama proses fermentasi akan dihasilkan beberapa senyawa bioaktif sebagai zat antioksidan, antikanker.

Endang mengakui pasar reguler tempe dari Rumah Tempe Indonesia masih sebatas pasar kelas menengah ke atas. ”Bukan karena harganya lebih mahal, melainkan karena penghargaan atas kualitas produk baru sebatas kelas menengah ke atas,” ucapnya.

Selain diedarkan di sejumlah perumahan elite di Bogor, tempe produksi Rumah Tempe Indonesia dikonsumsi oleh kalangan vegetarian dan disajikan restoran-restoran kelas atas.

”Kami juga menerima pesanan dari luar kota, tetapi tempe hanya kami antar sampai Stasiun Bogor. Selanjutnya, pemesan yang mengambil di sana,” kata Endang.

Sabtu sore itu, Suyanto (38), kepala produksi tempe di Rumah Tempe Indonesia, masih bekerja membuat tempe bersama empat pria lainnya. Kedelai dicuci di dandang besar. Dari sana, kedelai dipindahkan ke dandang besar lainnya untuk direbus.

Setelah direbus, kedelai seberat 70 kilogram itu dihamparkan dan diangin-angin dengan kipas angin. Setelah dingin, kedelai ditimbang, diberi ragi, dan dimasukkan ke dalam plastik, lalu diletakkan di rak-rak selama empat hari, menunggu menjadi tempe.

Dengan bangga Suyanto mengatakan, ”Sampai sekarang, tempe dari Rumah Tempe Indonesia adalah tempe terbaik di dunia.” Endang pun menyela, ”Mudah-mudahan Indonesia tidak menjadi negara pengimpor tempe setelah menjadi pengimpor kedelai.”



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X