Dahlan Kulik Strategi Bisnis Singapore Airlines

Kompas.com - 05/09/2013, 14:21 WIB
Pesawat Garuda Indonesia siap lepas landas di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, Rabu (17/4/2013). KOMPAS/AGUS SUSANTOPesawat Garuda Indonesia siap lepas landas di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, Rabu (17/4/2013).
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com
- Menteri BUMN Dahlan Iskan mempertanyakan rahasia bisnis Singapore Airlines kepada pabrikan pesawat Boeing, lantaran maskapai itu berani menggunakan pesawat berbadan lebar untuk melayani rute jarak pendek.

Hal itu dikemukakan Dahlan saat berkunjung ke pabrikan Boeing di Seattle, Amerika Serikat untuk meninjau pembuatan pesawat yang dipesan PT Garuda Indonesia Tbk.

Menurut Dahlan, saat inibegitu banyak maskapai nasional yang menggunakan jenis pesawat Boeing 737, yang pada akhirnya membuat lalu lintas udara di bandara-bandara utama di Indonesia mengalami kongesti atau antrian panjang.

"Saya bertanya ke Boeing, mengapa untuk jarak kurang dari 1,5 jam dari Singapura ke Jakarta, Singapore Airlines berani menggunakan pesawat berbadan lebar Boeing 777. Karena hal itu melawan teori bahwa jenis pesawat tersebut hanya baik untuk jarak jauh," ujar Dahlan dalam keterangan resminya, Kamis (5/9/2013).

Namun demikian, Dahlan tak membeberkan jawaban dari Boeing mengenai strategi yang ditempuh Singapore Airlines itu.

Dahlan juga mempertanyakan tingkat keekonomisan pesawat Boeing 737 untuk digunakan di Indonesia, menyusul semakin padatnya bandara di Indonesia.

"Saya mengemukakan persoalan, apakah ada pesawat yang lebih besar dari Boeing 737 tapi masih ekonomis untuk jarak tempuh pendek antara 1 sampai 2 jam penerbangan. Seperti diketahui, bandara-bandara di indonesia saat ini semakin padat dan didominasi pesawat Boeing 737," jelasnya.

Selama ini, jenis pesawat Boeing 737 memang dikenal efisien untuk melayani penerbangan dengan waktu tempuh antara 1-2 jam. Namun, semakin banyaknya maskapai yang menggunakan pesawat tersebut, membuat bandara semakin sibuk dan pesawat harus mengantre.

"Kalau jurusan-jurusan padat tersebut bisa menggunakan pesawat lebih besar dari 737, maka frekuensinya bisa dikurangi tanpa menurunkan kapasitas angkut," ungkapnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X