Ekonomi Indonesia Melambat, Ini Pesan ADB

Kompas.com - 02/10/2013, 15:32 WIB
Suasana pembangunan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/4/2013). Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, ADB memerkirakan perekonomian nasional tahan krisis. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNASuasana pembangunan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/4/2013). Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, ADB memerkirakan perekonomian nasional tahan krisis.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) mengingatkan Indonesia untuk perlu terus meningkatkan daya saing bagi kemampuan ekspornya di masa mendatang.

Hal ini seiring dengan perlambatan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. Deputy Country Director ADB untuk Indonesia Edimon Ginting mengatakan, ADB memang menurunkan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2013 menjadi hanya 5,7 persen dari prediksi sebelumnya di April yang mencapai 6,4 persen.

Untuk tahun 2014, ADB menyesuaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,6 persen menjadi 6 persen. “Ekonomi Indonesia diperkirakan akan lebih lambat dari perkiraan semula, karena adanya berbagai kebijakan yang diambil untuk mengendalikan inflasi serta defisit neraca berjalan akan memengaruhi laju pertumbuhan,” ujar Edimon di Jakarta, Rabu (2/10/2013).

Kendati demikian ADB masih optimis Indonesia mampu memperbaiki kondisi pertumbuhan ekonomi, inflasi hingga defisit transaksi berjalan di tahun depan. Edimon menganggap bahwa pelemahan ekonomi Indonesia hingga pertengahan tahun 2013 ini disebabkan karena turunnya investasi, turunnya belanja negara, dan meningkatnya inflasi akibat lonjakan harga bahan bakar minyak.

Sebagaimana prediksi awal tahun ini, Edimon menganggap konsumsi swasta tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan. Meningkatnya lapangan pekerjaan dan gaji, ditambah dengan pengurangan pajak penghasilan bagi mereka yang berpenghasilan rendah, mampu mengurangi dampak yang diakibatkan oleh inflasi dan kredit konsumsi yang makin ketat.

"Tingginya tingkat inflasi juga akan menurunkan angka konsumsi dalam beberapa bulan ke depan. Namun angka konsumsi diperkirakan akan tumbuh kembali pada 2014 saat inflasi telah mereda. Berbagai pembelanjaan terkait pemilihan umum legislatif dan presiden tahun depan juga diperkirakan akan membantu mendorong angka konsumsi pada tengah tahun depan," tambahnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X