Pemerintah Dinilai Tak Konsisten Urus Persoalan Gula

Kompas.com - 23/12/2013, 13:07 WIB
Direktur Utama PT.RNI, Ismed Hasan Putro, saat meninjau Pabrik Gula Jatitujuh, di Majalengka, Jawa Barat, Jumat (6/9/2013). Tahun ini PG Jatitujuh mendapat kuota impor raw sugar oleh Kementerian Perdagangan, sebanyak 25.000 ton yang datang Agustus lalu. KOMPAS.com/ESTU SURYOWATIDirektur Utama PT.RNI, Ismed Hasan Putro, saat meninjau Pabrik Gula Jatitujuh, di Majalengka, Jawa Barat, Jumat (6/9/2013). Tahun ini PG Jatitujuh mendapat kuota impor raw sugar oleh Kementerian Perdagangan, sebanyak 25.000 ton yang datang Agustus lalu.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah dinilai tidak konsisten dalam menangani persoalan gula nasional. Rembesan gula rafinasi membuat harga gula tebu tak bisa bersaing yang dapat 'mematikan' industri gula nasional.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) Ismed Hasan Putro mengatakan pihaknya merasakan keprihatinan mendalam terkait masalah pergulaan nasional. Regulator dinilai tak konsisten terkait pergulaan nasional.

"Konsistensi terkait gula belum dirasakan petani tebu dan industri gula yang dikelola BUMN. Regulator tidak berdaya dengan serbuan gula rafinasi yang mengakibatkan harga gula nasional, tidak bisa dijual dengan harga yang berdampak positif bagi kesejahteraan petani," kata Ismed dalam konferensi pers di kantor pusat RNI, Senin (23/12/2013).

Ismed menjelaskan bila regulator masih mementingkan impor gula rafinasi, maka industri gula nasional akan terancam mati. Tak hanya itu, petani tebu pun akan merasakan dampak negatif, dalam waktu cepat atau lambat.

"Realita ini membuat kita di hari-hari ke depan akan menyaksikan industri gula BUMN terancam, bahkan ribuan sampai ratusan ribu tanaman tebu dan petani akan terkubur, bila regulator masih mementingkan impor gula rafinasi. Itu adalah tanda kematian industri gula berbasis tebu dalam negeri," ujar dia.

Lebih lanjut, Ismed mengatakan harga gula tebu saat ini turun drastis bila dibandingkan tahun 2012. Ini akibat tidak adanya pengendalian atas gula rafinasi yang merembes hingga ke pasar-pasar tradisional.

"Harga gula saat ini sangat jauh dibandingkan tahun 2012. Ini karena tidak berdayanya perangkat negara untuk mengendalikan gula rafinasi masuk ke pasar dan rumah tangga tanpa punishment. Regulator harus introspeksi terkait kebijakan, karena akan mengubur industri dan menjauhkan cita-cita nasional swasembada gula," tegas Ismed.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Minta PMI Tidak Mudik Lebaran, Pemerintah: Bersabarlah Dulu

Minta PMI Tidak Mudik Lebaran, Pemerintah: Bersabarlah Dulu

Whats New
Alamat BNI, BRI, BTN dan Mandiri untuk Tukar Uang Baru di Surabaya dan Sekitarnya

Alamat BNI, BRI, BTN dan Mandiri untuk Tukar Uang Baru di Surabaya dan Sekitarnya

Whats New
Erick Thohir Ajak Milenial Buka Lapangan Kerja Agar Tak Bergantung Pemerintah

Erick Thohir Ajak Milenial Buka Lapangan Kerja Agar Tak Bergantung Pemerintah

Whats New
Industri Tambak Udang di Bangka Menggeliat, Permintaan Listrik Ikut Melonjak

Industri Tambak Udang di Bangka Menggeliat, Permintaan Listrik Ikut Melonjak

Whats New
Di Wilayah Ini, Harga Cabai, Bawang, Daging Sapi, Ayam, dan Telur Mulai Naik

Di Wilayah Ini, Harga Cabai, Bawang, Daging Sapi, Ayam, dan Telur Mulai Naik

Whats New
Alamat BCA dan Bank Swasta Lain di Jabodebek untuk Tukar Uang Baru

Alamat BCA dan Bank Swasta Lain di Jabodebek untuk Tukar Uang Baru

Whats New
Erick Thohir Sebut Perekonomian Indonesia Mampu Tumbuh 7 Persen, ini Alasannya

Erick Thohir Sebut Perekonomian Indonesia Mampu Tumbuh 7 Persen, ini Alasannya

Whats New
Erick Thohir: Apartement untuk Generasi Milenial akan Segera Hadir

Erick Thohir: Apartement untuk Generasi Milenial akan Segera Hadir

Whats New
Banyak Negara Batasi Ekspor Vaksin Covid-19, Erick Thohir Fokus Pengadaan dari Dalam Negeri

Banyak Negara Batasi Ekspor Vaksin Covid-19, Erick Thohir Fokus Pengadaan dari Dalam Negeri

Whats New
Dua Kandidat Utama Pengelola TMII, Taman Wisata Candi yang Terkuat

Dua Kandidat Utama Pengelola TMII, Taman Wisata Candi yang Terkuat

Whats New
Baru Diblokir, Website Baru Binomo Sudah Muncul Lagi

Baru Diblokir, Website Baru Binomo Sudah Muncul Lagi

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Berburu Takjil Berbuka | Tantangan Berpuasa di Eropa | Referensi Menu Berbuka

[POPULER DI KOMPASIANA] Berburu Takjil Berbuka | Tantangan Berpuasa di Eropa | Referensi Menu Berbuka

Rilis
Visi Bisnis Gojek dan Tokopedia, Visi Anda Apa?

Visi Bisnis Gojek dan Tokopedia, Visi Anda Apa?

Whats New
Kalahkan Jeff Bezos, Elon Musk Menangkan Kontrak Bangun Roket dari NASA

Kalahkan Jeff Bezos, Elon Musk Menangkan Kontrak Bangun Roket dari NASA

Whats New
Proses Perizinan dan Pengadaan Lahan Habiskan 50 Persen Total Waktu Pengembangan Hulu Migas

Proses Perizinan dan Pengadaan Lahan Habiskan 50 Persen Total Waktu Pengembangan Hulu Migas

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X