Kompas.com - 16/01/2014, 10:21 WIB
Kapal-kapal ikan milik nelayan Waewole di sekitar Dermaga Waewole, Kelurahan Watu, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur berlabuh dan tidak melaut akibat cuaca buruk, Jumat (11/1/2013).  KOMPAS.com/ MARKUS MAKURKapal-kapal ikan milik nelayan Waewole di sekitar Dermaga Waewole, Kelurahan Watu, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur berlabuh dan tidak melaut akibat cuaca buruk, Jumat (11/1/2013).
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com
- Program 1.000 kapal Inka Mina untuk kelompok nelayan dinilai kurang memper-hitungkan kondisi dan kebutuhan nelayan serta tidak ditopang survei yang akurat. Akibatnya, program yang menghabiskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Rp 1,5 triliun itu dinilai mubazir.

Demikian dikemukakan Wakil Ketua Komite Tetap untuk Industri Penangkapan Ikan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Siswahyudi di Jakarta, Rabu (15/1/2013).

Dicontohkan, kapal Inka Mina yang diberikan berupa kapal fiber, sedangkan nelayan di sejumlah wilayah terbiasa menggunakan kapal kayu. Kelompok nelayan penerima bantuan juga tidak diberi pelatihan untuk mengubah sistem penangkapan ikan.

”Proyek itu kurang akurat, main drop (menempatkan) kapal untuk nelayan, sementara nelayan tidak terbiasa mengubah sistem,” ujar Siswahyudi yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Bidang Energi, Prasarana dan Sarana Perikanan.

Hal senada dikemukakan Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia untuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Febrizal Rahmana. Kekacauan program Inka Mina selama lima tahun bergulir tecermin dari spesifikasi kapal yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan peruntukan kerap salah sasaran.

”Program itu sama saja dengan proyek. Ke depan, survei untuk pengadaan kapal Inka Mina harus lebih akurat. Spesifikasinya disesuaikan dengan kebutuhan nelayan dan kondisi di daerah,” ujarnya.

Wakil Ketua Komite Tetap Kadin untuk Akreditasi, Standardisasi, dan Kualitas Produk Perikanan Sektor Kelautan dan Perikanan Raditya menambahkan, desain kapal Inka Mina tidak disamaratakan untuk semua nelayan karena kultur di setiap daerah berbeda. Latar belakang dan kemampuan nelayan untuk mengelola berbeda. Daerah yang tidak sanggup mengelola kapal itu sebaiknya tidak usah diberikan bantuan kapal.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Tanpa pembenahan Inka Mina, nilai ekspor perikanan kita sulit meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengemukakan, potensi kelautan dan perikanan masih sangat besar, tetapi belum digarap optimal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekonomi kelautan dan perikanan mencapai Rp 255 triliun. (LKT)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menhub: Pergerakan Pesawat Semakin Baik

Menhub: Pergerakan Pesawat Semakin Baik

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Tips Aman Cari Jodoh Melalui Aplikasi | 'Empty Love', Benarkah Terjadi Melalui Proses Perjodohan? | Sudah Tahu 'Toxic' Kenapa Masih Dipertahankan?

[KURASI KOMPASIANA] Tips Aman Cari Jodoh Melalui Aplikasi | "Empty Love", Benarkah Terjadi Melalui Proses Perjodohan? | Sudah Tahu "Toxic" Kenapa Masih Dipertahankan?

Rilis
Punya Uang Rusak Tak Layar Edar, Ini yang Harus Dilakukan

Punya Uang Rusak Tak Layar Edar, Ini yang Harus Dilakukan

Whats New
Jokowi Diminta Benahi Kusutnya Pelabuhan di Indonesia

Jokowi Diminta Benahi Kusutnya Pelabuhan di Indonesia

Whats New
Soal PPN Sembako, Komisi XI DPR: Tarik dan Revisi Isi RUU KUP

Soal PPN Sembako, Komisi XI DPR: Tarik dan Revisi Isi RUU KUP

Rilis
Strategi Menaker Ida Hadapi Transformasi Ketenagakerjaan di Era Industri 4.0

Strategi Menaker Ida Hadapi Transformasi Ketenagakerjaan di Era Industri 4.0

Rilis
Tinjau Kebakaran di Kilang Cilacap, Bos Pertamina: Tidak Ada Korban

Tinjau Kebakaran di Kilang Cilacap, Bos Pertamina: Tidak Ada Korban

Rilis
Persiapan Pembukaan Pariwisata Bali untuk Wisman Sudah 90 Persen

Persiapan Pembukaan Pariwisata Bali untuk Wisman Sudah 90 Persen

Whats New
Sering Dibully Jadi Alasan 5 Calon Pekerja Migran Terjun dari Lantai 4 BLK Malang

Sering Dibully Jadi Alasan 5 Calon Pekerja Migran Terjun dari Lantai 4 BLK Malang

Rilis
Cek Pajak Kendaraan Motor dan Mobil DKI Jakarta di Sini

Cek Pajak Kendaraan Motor dan Mobil DKI Jakarta di Sini

Spend Smart
Kemenkeu: RUU Perpajakan Mungkin Akan Dinikmati Pemerintahan Era Mendatang

Kemenkeu: RUU Perpajakan Mungkin Akan Dinikmati Pemerintahan Era Mendatang

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] 3 Rekomendasi Film dan Serial untuk Pecinta Genre Horor

[KURASI KOMPASIANA] 3 Rekomendasi Film dan Serial untuk Pecinta Genre Horor

Rilis
Buka Pesta Kesenian, Jokowi: Tunjukkan ke Dunia, Bali Aman Dikunjungi

Buka Pesta Kesenian, Jokowi: Tunjukkan ke Dunia, Bali Aman Dikunjungi

Whats New
Biar Hemat, Manfaatkan Promo Indomaret Pekan Ini

Biar Hemat, Manfaatkan Promo Indomaret Pekan Ini

Whats New
Jadi Komut Inalum, Berapa Gaji yang Didapat Doni Monardo?

Jadi Komut Inalum, Berapa Gaji yang Didapat Doni Monardo?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X