Tim Transisi: Zaman Berubah, Subsidi ala Soeharto Salah

Kompas.com - 07/09/2014, 19:33 WIB
Papan pengumuman bertuliskan kuota solar bersubsidi habis, dipasang di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta, Senin (25/8/2014). Pembatasan penjualan solar bersubsidi mulai berdampak dengan kosongnya stok solar bersubsidi di sejumlah SPBU di Jakarta dan sekitarnya. KOMPAS / IWAN SETIYAWANPapan pengumuman bertuliskan kuota solar bersubsidi habis, dipasang di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta, Senin (25/8/2014). Pembatasan penjualan solar bersubsidi mulai berdampak dengan kosongnya stok solar bersubsidi di sejumlah SPBU di Jakarta dan sekitarnya.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota tim transisi bidang ekonomi Joko Widodo-Jusuf Kalla, Wijayanto Samirin mengatakan, ada yang salah jika pemerintah tetap mempertahankan adanya subsidi bahan bakar (BBM). Empat puluh tahun kondisi antara kebutuhan dan kemampuan negara menyediakan energi fosil telah berubah.

Dia menjelaskan, asal mula pemerintah RI memberikan subsidi BBM adalah sekitar 1970an. Ketika itu, Indonesia mampu memproduksi 1,8 juta barel per hari (bph). Masyarakat saat itu mayoritas miskin, dan tidak banyak mengkonsumsi BBM. Konsumsi BBM masyarakat hanya 280.000 bph.

"Kita surplus banyak sekali. Kemudian ada masalah OPEC, dan yang paling mudah dilakukan pemerintah Soeharto adalah harga minyak diturunkan. Subsidi saat itu sebenarnya bukan untuk membuat harga menjadi murah, namun untuk memberikan benefit ke rakyat," kata dia dalam diskusi bertajuk 'Subsidi BBM: Solusi atau Masalah?', di Menteng, Jakarta, Minggu (7/9/2014).

Lebih lanjut dia mengatakan, 40 tahun kemudian kondisi antara kebutuhan dan kemampuan menyediakan energi berbalik. Kebutuhan saat ini mencapai 1,7 juta bph, sementara produksi hanya 820.000 bph. Bahkan 15 persen dari produksi tersebut adalah milik atau hak kontraktor asing.

"Kondisi berubah drastis. Kalau kebijakan yang ditempuh sama (ada subsidi BBM), berarti ada sesuatu yang salah," imbuh dia.

Wijayanto mengatakan, karakter pemerintahan terlihat dari bagaimana cara mereka menghabiskan anggaran, untuk hal produktif atau tidak. Sayangnya, dia bilang, pemerintah Indonesia adalah satu dari 18 negara yang masih memberikan subsidi BBM. Bahkan, menjadi negara nomer 7 dengan harga BBM termurah.

Dia memaparkan harga BBM di Indonesia sekitar 0,6 dollar AS per liter, China 1,25 dollar AS per liter. Sementara India, negara dengan GDP lebih rendah dibanding Indonesia, harga BBM-nya 1,33 dollar AS per liter. "Filipina harga BBM-nya 1,29 dollar AS per liter, Thailand 1,23 dollar AS per liter, dan Turki 2,5 dollar AS per liter," sambung Deputy Rector for Cooperation and Business Development Universitas Paramadina itu.

Indonesia bukanlah negara produsen minyak dunia, dan juga bukan negara otoriter, namun tetap memberikan subsidi. "Karena negara yang masih memberikan subsidi itu biasanya, pertama dia yang produksi minyak, dan kedua, dia adalah berbentuk otoriter. Pemberian subsidi di negara otoriter ditujukan untuk 'menyuap' rakyatnya agar patuh. Indonesia ini kan negara demokrasi," kata dia.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Transfer Pulsa Telkomsel lewat SMS dengan Mudah

Cara Transfer Pulsa Telkomsel lewat SMS dengan Mudah

Spend Smart
Apa Itu Produsen? Simak Pengertian, Fungsi dan Tujuannya

Apa Itu Produsen? Simak Pengertian, Fungsi dan Tujuannya

Earn Smart
Menteri Investasi: Dulu, Hanya Kepala Dinas dan Tuhan yang Tahu Kapan Izin Usaha Selesai

Menteri Investasi: Dulu, Hanya Kepala Dinas dan Tuhan yang Tahu Kapan Izin Usaha Selesai

Whats New
Pemerintah Evaluasi Harga Batu Bara Khusus Industri Semen dan Pupuk

Pemerintah Evaluasi Harga Batu Bara Khusus Industri Semen dan Pupuk

Whats New
LMAN Siap Terlibat dalam Pembangunan Ibu Kota 'Nusantara'

LMAN Siap Terlibat dalam Pembangunan Ibu Kota "Nusantara"

Whats New
Menkop UKM Teten Masduki Sambut Inisiatif Bill Gates dan Filantropis Dunia Dukung UMKM Indonesia

Menkop UKM Teten Masduki Sambut Inisiatif Bill Gates dan Filantropis Dunia Dukung UMKM Indonesia

Rilis
Ini Penyebab Anggaran PEN 2021 Tidak Terserap 100 Persen

Ini Penyebab Anggaran PEN 2021 Tidak Terserap 100 Persen

Whats New
Keuangan Mulai Membaik, Ekuitas Asabri Masih Negatif Rp 4,7 Triliun

Keuangan Mulai Membaik, Ekuitas Asabri Masih Negatif Rp 4,7 Triliun

Whats New
Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaann Tanpa Aplikasi

Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaann Tanpa Aplikasi

Whats New
Menkop UKM Dorong Peternak Ayam Ciremai Group untuk Manfaatkan KUR Klaster Pertanian

Menkop UKM Dorong Peternak Ayam Ciremai Group untuk Manfaatkan KUR Klaster Pertanian

Rilis
Mudah, Ini Cara Cetak Kartu BPJS Kesehatan Online

Mudah, Ini Cara Cetak Kartu BPJS Kesehatan Online

Whats New
Penguatan Infrastruktur Digital Jadi Kunci Industri e-Commerce Lebih Sustainable

Penguatan Infrastruktur Digital Jadi Kunci Industri e-Commerce Lebih Sustainable

Work Smart
Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan Online hingga Rp 10 Juta

Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan Online hingga Rp 10 Juta

Whats New
Bahlil: Gaji Menteri Enggak Lebih dari Rp 20 Juta, Gayanya Saja yang Mantap

Bahlil: Gaji Menteri Enggak Lebih dari Rp 20 Juta, Gayanya Saja yang Mantap

Whats New
Mandiri Investment Forum Kembali Digelar, Ribuan Investor dengan Total Aset 4 Triliun Dollar AS Bakal Hadir

Mandiri Investment Forum Kembali Digelar, Ribuan Investor dengan Total Aset 4 Triliun Dollar AS Bakal Hadir

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.