Presiden Berharap Tahun Depan Nilai Tukar Rupiah Kembali Menguat

Kompas.com - 16/12/2014, 22:06 WIB
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat Kabinet di Istana Presiden di Jakarta, Senin (17/11/2014). Presiden mengatakan akan memotong subsidi BBM yang telah memakan 20 persen APBN, danmengalihkan uang subsidi untuk memperbaiki infrastruktur dan program-program membantu rakyat miskin. AFP PHOTO / PRESIDEN PALACE / Laily AFP PHOTO / PRESIDEN PALACE / LailyPresiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat Kabinet di Istana Presiden di Jakarta, Senin (17/11/2014). Presiden mengatakan akan memotong subsidi BBM yang telah memakan 20 persen APBN, danmengalihkan uang subsidi untuk memperbaiki infrastruktur dan program-program membantu rakyat miskin. AFP PHOTO / PRESIDEN PALACE / Laily
Penulis Icha Rastika
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak berlangsung lama. Dengan perbaikan ruang fiskal, kata Jokowi, Pemerintah berharap tahun depan nilai tukar rupiah kembali menguat.

"Dengan fundamental ekonomi kita, dengan perbaikan ruang fiskal kita, ya moga-moga untuk di Indonesia itu tidak berjalan lama. Mulai tahun depan moga-moga sudah mulai baik," kata Jokowi di Jakarta, Selasa (16/12/2014) malam.

Jokowi mengatakan, fenomena pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS bukan hanya terjadi di Indonesia. Hampir semua negara, menurut dia, mengalami hal yang sama. Untuk menjaga neraca perdagangan, kata Jokowi, pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan industri yang bergerak di bidang ekspor. "Dan tentu saja mengerem barang-barang impor kita," ucapnya.

Untuk membahas nilai tukar rupiah ini, Presiden berencana menggadakan rapat dengan Gubernur Bank Indonesia dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Berdasarkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pagi ini, kurs rupiah berada di level 12.900 per dolar AS. Sementara Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah di level 12.599 per dolar AS yang menjadi level terendah sejak Mei 2013.

Menurut data Bloomberg, anjloknya rupiah tak separah yang dialami oleh mata uang Rusia, rubel, yang sejauh ini telah melemah hingga 9,3 persen. Sementara itu, mata uang lira Turki telah melorot sebesar 3,3 persen kemarin, dan rand Afrika Selatan yang telah turun 1,4 persen.

Bloomberg mencatat dana asing yang keluar dari pasar berkembang (emerging market) mencapai 2 miliar dollar AS. Khusus dari pasar Indonesia, dana asing yang telah keluar dari pasar surat utang pemerintah mencapai Rp 10,2 triliun dan sebesar 243 juta dollar AS dari pasar saham.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca tentang


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X