Kompas.com - 05/01/2015, 08:21 WIB
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ke kendaraannya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) 34.10102 di jalan KH. Hasyim Ashari, Jakarta, Jumat (5/4/2013). Pemerintah berusaha merumuskan solusi pengendalian bahan bakar minyak bersubsidi mengingat kuota bulanan untuk periode Januari-Maret sudah jebol 6 persen. 

KOMPAS/PRIYOMBODOPengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ke kendaraannya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) 34.10102 di jalan KH. Hasyim Ashari, Jakarta, Jumat (5/4/2013). Pemerintah berusaha merumuskan solusi pengendalian bahan bakar minyak bersubsidi mengingat kuota bulanan untuk periode Januari-Maret sudah jebol 6 persen.
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 18 November 2014 lalu, belum terbukti ampuh mengerem defisit neraca perdagangan Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada November 2014 mengalami defisit sebesar 420 juta dollar AS. Padahal, pada bulan sebelumnya, neraca perdagangan masih surplus 20 juta dollar AS.

Memburuknya neraca dagang pada November 2014 dipicu membengkaknya defisit neraca perdagangan minyak dan gas bumi (migas). Pada November 2014, defisit migas mencapai 1,36 miliar dollar AS, lebih tinggi dibandingkan defisit migas pada Oktober 2014 sebesar 1,11 miliar dollar AS. "Ini terjadi akibat anjloknya ekspor migas dari 2,47 miliar dollar AS menjadi 2,11 miliar dollar AS," kata Kepala BPS Suryamin, akhir pekan lalu.  

Secara kumulatif, neraca perdagangan sepanjang Januari-November 2014 mengalami defisit 2,07 miliar dollar AS. Rinciannya, defisit migas sebesar 12,09 miliar dollar AS dan surplus nonmigas 10,02 miliar dollar AS. Total nilai ekspor Indonesia Januari-November 2014 mencapai 161,67 miliar dollar AS dan total impor pada periode yang sama 163,74 miliar dollar AS.

BPS dan ekonom memperkirakan, defisit neraca perdagangan hingga akhir tahun 2014 dan sepanjang 2015 masih menjadi momok keuangan Indonesia. Ada beberapa penyebabnya.

Pertama, impor BBM masih tinggi. Kedua, harga komoditas non migas seperti minyak kelapa sawit dan batubara di pasar dunia masih tertekan. "Padahal ekspor komoditas menjadi andalan produk ekspor Indonesia," kata Lana Soelistyaningsih, Ekonom Samuel Asset Manajemen.

Lana memperkirakan, tingginya konsumsi BBM di dalam negeri pada tahun ini dipicu oleh penurunan harga BBM premium, solar dan Pertamax. Penurunan harga ini diperkirakan masih berlanjut. Sebab,  harga minyak mentah dunia berpotensi menukik turun pada tahun ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ekonom Indef, Eko Listianto, memperkirakan defisit neraca dagang Indonesia pada tahun ini bisa mencapai  1 miliar dollar AS. Sementara prediksi Lana lebih besar lagi, mencapai sekitar 3 miliar dollar AS. "Jadi, defisit akan lebih besar dari tahun 2014," ujar Lana.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Firmanzah melihat,  gelaran proyek infrastruktur juga membawa dilema. Satu sisi, proyek ini menjadi tulang punggung pendorong ekonomi. Di sisi lain, impor barang melejit untuk memenuhi bahan baku proyek. Akibatnya defisit dagang masih terjadi.

Menko Ekonomi Sofyan Djalil optimistis pemerintah bisa mengerem defisit neraca dagang tahun ini. Alasannya, pemerintah akan lebih ketat mengontrol impor dan memantau suplai barang. (Asep Munazat Zatnika, Jane Aprilyani)



Sumber
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[KURASI KOMPASIANA] Menikmati 2 Kota Tuan Rumah Olimpiade hingga Roh Gentayangan di Benteng Romawi Kuno

[KURASI KOMPASIANA] Menikmati 2 Kota Tuan Rumah Olimpiade hingga Roh Gentayangan di Benteng Romawi Kuno

Rilis
Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi, Himbara Siap Genjot Penyaluran Kredit

Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi, Himbara Siap Genjot Penyaluran Kredit

Whats New
Jakpro Gandeng PGN Bangun Infrastrktur Gas Bumi di Jakarta

Jakpro Gandeng PGN Bangun Infrastrktur Gas Bumi di Jakarta

Rilis
Sambut Ultah Ke-12, Tokopedia Dorong Percepatan Digitalisasi UMKM

Sambut Ultah Ke-12, Tokopedia Dorong Percepatan Digitalisasi UMKM

Whats New
Bank BUMN Pede Kredit Bisa Tumbuh hingga 7 Persen

Bank BUMN Pede Kredit Bisa Tumbuh hingga 7 Persen

Whats New
RI Keluar dari Resesi, OJK Bakal Dorong Pemda Salurkan KUR Pertanian

RI Keluar dari Resesi, OJK Bakal Dorong Pemda Salurkan KUR Pertanian

Whats New
Varian Delta Tekan Ekonomi Kuartal III, Pemerintah Andalkan Kuartal IV

Varian Delta Tekan Ekonomi Kuartal III, Pemerintah Andalkan Kuartal IV

Whats New
Bagaimana Tahapan Penyusunan APBN?

Bagaimana Tahapan Penyusunan APBN?

Whats New
Chatib Basri Ungkap Solusi Pertahankan Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal III 2021

Chatib Basri Ungkap Solusi Pertahankan Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal III 2021

Whats New
Ekonomi RI Tumbuh 7,07 Persen, Mendag: Konsumsi Membaik ke Masa Sebelum Pandemi

Ekonomi RI Tumbuh 7,07 Persen, Mendag: Konsumsi Membaik ke Masa Sebelum Pandemi

Whats New
Meski Dihantam Varian Delta, Sri Mulyani Pede Ekonomi Kuartal III Sentuh 5,7 Persen

Meski Dihantam Varian Delta, Sri Mulyani Pede Ekonomi Kuartal III Sentuh 5,7 Persen

Whats New
Menteri Pertanian: Penyaluran KUR 2021 Sudah Terserap Rp 43,60 Triliun

Menteri Pertanian: Penyaluran KUR 2021 Sudah Terserap Rp 43,60 Triliun

Whats New
Menkop Teten Sebut Sektor UMKM Hampir Normal Seperti Sebelum Pandemi

Menkop Teten Sebut Sektor UMKM Hampir Normal Seperti Sebelum Pandemi

Whats New
Tekan Penyebaran Covid-19, Kemenperin Pantau Operasional Industri Manufaktur

Tekan Penyebaran Covid-19, Kemenperin Pantau Operasional Industri Manufaktur

Whats New
Gandeng PTPP, BPKH Bangun Rumah Indonesia di Mekkah

Gandeng PTPP, BPKH Bangun Rumah Indonesia di Mekkah

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X