Perindah Wajah di Tepian Sungai

Kompas.com - 18/05/2015, 15:40 WIB
Dengan kondisi minim akan sumber daya alam, Pemerintah Kota Jambi menargetkan wilayah ini sebagai pusat jasa dan perdagangan bagi daerah sekitarnya. Penataan ruang pun diperbaiki. Peluang investasi bagi usaha jasa, pariwisata, dan perdagangan dibuka seluas-luasnya. Inilah suasana di bawah Jembatan Pedestrian, Dermaga Tanggo Rajo, Kota Jambi, Sabtu (16/5/2015). KOMPAS/IRMA TAMBUNANDengan kondisi minim akan sumber daya alam, Pemerintah Kota Jambi menargetkan wilayah ini sebagai pusat jasa dan perdagangan bagi daerah sekitarnya. Penataan ruang pun diperbaiki. Peluang investasi bagi usaha jasa, pariwisata, dan perdagangan dibuka seluas-luasnya. Inilah suasana di bawah Jembatan Pedestrian, Dermaga Tanggo Rajo, Kota Jambi, Sabtu (16/5/2015).
EditorErlangga Djumena

Oleh Irma Tambunan

Sejak diresmikan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Maret lalu, Jembatan Pedestrian dan Menara Gentala Arasy menjadi ikon baru Kota Jambi. Jembatan sepanjang 503 meter di atas Sungai Batanghari itu bak primadona. Keberadaannya menyedot ratusan pengunjung setiap hari sehingga selalu membuat kemacetan di akses jalan ke jembatan itu.

Di akhir pekan dan liburan, warga tampak selalu menjejali kawasan Dermaga Tanggo Rajo. Datang dari sejumlah wilayah di Kota Jambi dan daerah sekitarnya, mereka ingin "mencicipi" jembatan berbentuk huruf "S" yang didesain khusus bagi pejalan kaki itu. Biaya pembangunannya Rp 88,7 miliar melalui anggaran tahun 2012-2014, menghasilkan jembatan berkonstruksi mewah dilengkapi dua pilar, masing-masing membentangkan 40 kabel baja penguat konstruksi. Tentu hasil pengerjaannya mengundang penasaran banyak orang.

Namun, tingginya antusiasme warga menyeberangi jembatan kini menumbuhkan persoalan baru. Lokasi parkir belum tersedia. Akibatnya, akses jalan yang ada pun terpakai untuk parkiran kendaraan hingga lebih dari separuh badan jalan. Kemacetan sulit dihindari.

Pemandangan lebih tampak semrawut dengan banyaknya pedagang kaki lima memenuhi mulut jembatan, mengusik kenyamanan pengunjung.

Wajah kota

Dari atas jembatan, pandangan kita dapat luas menyisir wajah Kota Jambi. Di seberang sungai, terdapat kehidupan masyarakat yang identik dengan sebutan Seberang Kota Jambi (Sekoja). Kawasan ini adalah sejarah awal masuk dan menyebarnya Islam di Kota Jambi. Terdapat sejumlah pusat pembelajaran agama Islam di sana.

Selain itu, Sekoja tumbuh menjadi sentra kerajinan batik tulis. Keunikan lain adalah rumah penduduk Melayu Jambi berakulturasi dengan budaya Tionghoa dan Arab. Itu tampak pada keindahan arsitekturnya. Semuanya adalah potensi yang perlu dikelola lebih memadai, terlebih dengan telah dibangunnya akses penyeberangan ke kawasan tersebut.

Sungai Batanghari merupakan potensi alam terbesar Kota Jambi. Sebagai sungai terpanjang di Sumatera yang membelah kota hingga ke hilir, Batanghari menjadi menghantar akulturasi budaya dan peradaban.

Namun, airnya yang belakangan ini kian tercemar menimbulkan persoalan baru. Keruhnya air Batanghari sempat pula disingung Wapres saat meresmikan Jembatan Pedestrian. Masyarakat sebenarnya gundah akan kondisi sungai yang tidak lagi nyaman dipandang. "Masyarakat senang Jambi memiliki ikon wisata baru, tetapi juga risi setiap kali menatap sungai di bawah jembatan itu keruh. Tentu tidak nyaman melihat Batanghari menjadi seperti sekarang," ujar Haryanto, warga Kelurahan Thehok, Jambi.

Sejumlah pabrik karet di sepanjang Sungai Batanghari diketahui membuang limbah ke sungai tanpa pengolahan memadai. Akibatnya sungai makin tercemar. Padahal, kehidupan kota berpenduduk lebih dari 700.000 jiwa ini sangat bergantung pada Batanghari. "Masyarakat masih mengambil ikan dari sungai dan sebagian memakai untuk mandi dan mencuci," ujar Popriyanto, anggota DPRD Provinsi Jambi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X