Kisah Warga Bima yang Harus Keluar Ongkos Rp 60.000 untuk Menabung

Kompas.com - 10/06/2015, 11:51 WIB
Pelabuhan nelayan di desa Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (8/6/2015). KOMPAS.com/Andri Donnal PuteraPelabuhan nelayan di desa Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (8/6/2015).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

BIMA, KOMPAS.com - Warga di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, sempat merasakan sulitnya menabung karena rumahnya yang jauh dari kantor bank di sana. Terutama warga yang ada di Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota, yang harus menempuh jalan rusak sejauh puluhan kilometer agar bisa menabung atau melakukan tarik tunai.

Kelurahan Kolo terletak di dekat Teluk Bima dengan mata pencaharian utama warga sebagai nelayan. Meski demikian, cukup banyak warga di sana yang merantau ke Pulau Jawa, yakni di Malang, untuk menempuh pendidikan tinggi maupun daerah-daerah lain untuk bekerja.

Akses perbankan sangat dibutuhkan agar bisa menerima kiriman uang maupun mengirim uang ke luar kota untuk anggota keluarga dan kerabatnya.

"Saya ingat betul kalau mau nabung ke (pusat) kota, harus naik ojek dari sini melewati bukit itu, dulu jalannya masih rusak. Sekali jalan bisa keluar Rp 60.000 buat ongkos," kata salah satu warga Kolo, Abdul Mutalib (48) kepada Kompas.com, Selasa (9/6/2015).

Menurut Abdul, ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk menuju bank di pusat kota, yaitu jalur darat dan jalur laut. Untuk jalur laut, bisa lebih cepat sampai karena tidak melewati jalan di perbukitan alias mengambil jalan pintas.

Sementara itu, biaya naik speed boat di jalur laut juga lebih murah, yakni Rp 10.000 untuk sekali jalan. Waktu yang ditempuh sekitar setengah jam, berbeda dengan jalur darat yang memakan waktu kurang lebih tiga jam.

Abdul merasa bersyukur karena akses darat menuju pusat kota telah diperbaiki dua tahun terakhir. Ditambah lagi sudah ada program Laku Pandai yang masuk ke Kelurahan Kolo. Laku Pandai merupakan salah satu program dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bertujuan memberi layanan perbankan kepada masyarakat tanpa harus ke bank.

Agen Laku Pandai dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang ada di Kelurahan Kolo, Nurfitriah (23), mengaku senang bisa membantu warga di sana. Perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai bidan ini mengatakan siap untuk melayani warga di sana selama 24 jam.

"Harus siap. Pas jadi bidan saya juga harus siap kapan saja, jadi bukan masalah besar kalau ada yang mau datang ke saya jam berapa saja," ujar Nurfitriah.

Layanan perbankan yang baru bisa diberikan oleh Nurfitriah di sana adalah setor dan tarik tunai serta beli pulsa telepon selular. Sudah ada 32 nasabah Nurfitriah yang tidak lagi perlu repot-repot untuk pergi ke pusat kota agar bisa menabung dan mengirimkan uang bagi anggota keluarga mereka di luar kota.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X