Wapres: Pelemahan Mata Uang Juga Terjadi di Negara Asia Lainnya

Kompas.com - 12/08/2015, 15:33 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menghadiri peringatan hari ulang tahun ASEAN yang ke-48 di Jakarta, Senin (10/8/2015). 
Icha RastikaWakil Presiden Jusuf Kalla saat menghadiri peringatan hari ulang tahun ASEAN yang ke-48 di Jakarta, Senin (10/8/2015).
Penulis Icha Rastika
|
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla lagi-lagi mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dollar AS bukan hanya terjadi di Indonesia. Devaluasi yuan turut mempengaruhi nilai tukar mata uang di negara lain di Asia.

"Ya kan salah satu efek devaluasi yuan kemarin, akibat Yuan-nya melemah kan ke dollar AS, makanya Indonesia terikut. Bukan hanya Indonesia tetapi negara asia lain juga," kata Kalla di Jakarta, Rabu (11/8/2015).

Wapres juga menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah bukan sekadar dipengaruhi kinerja pemerintah dalam membangun perekonomian nasional. Ada faktor eksternal yang berkorelasi dengan faktor internal.

"Artinya kan Indonesia berhubungan, tentu banyak juga yang menilai apa yang kita buat, tetapi selalu ada korelasi internal dan eksternal," sambung Kalla.

Mengenai pengaruh perombakan kabinet (reshuffle) terhadap melemahnya nilai tukar rupiah, Kalla menepis anggapan tersebut.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS makin terpuruk pasca devaluasi yuan. Pada awal perdagangan di pasar spot pagi ini, rupiah langsung tenggelam menembus level 13.800 dibanding penutupan kemarin pada 13.607,4.

Data Bloomberg pukul 08.45 WIB menunjukkan, mata uang Garuda terpuruk ke posisi Rp 13.810 per dollar AS, posisi terendah sejak masa krisis tahun 1998. Tercatat pada tanggal 17 Juni 1998, rupiah pernah berada di puncak rekor terlemah pada Rp 16.650 per dollar AS. Langkah People's Bank of China mendevaluasi nilai tukar yuan berpotensi mempersulit posisi rupiah dalam jangka menengah. Menyusul devaluasi yuan, hampir seluruh mata uang di Asia-Pasifik melemah cukup tajam bersamaan dengan anjloknya harga komoditas.

PBoC pada Selasa (11/8/2015) memutuskan untuk mendevaluasi yuan yang diperkirakan dilakukan untuk mendongkrak tingkat kompetisi barang ekspor Tiongkok yang terus tergerus. Selain akibat kenaikan produktivitas dan gaji buruh, juga akibat pelemahan “sengaja” mata uang negara kompetitor (seperti Korea dan Jepang).

Kompas TV Rupiah Terus Mengalami Penurunan

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X