BI: Migrasi Kartu ATM Cip Tetap Awal 2016

Kompas.com - 14/09/2015, 11:25 WIB
Nasabah melakukan transaksi dengan mesin ATM. KOMPAS.com/Sakina Rakhma Diah SNasabah melakukan transaksi dengan mesin ATM.
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com -  Bank Indonesia (BI) masih memegang teguh aturan yang mewajibkan perbankan menerapkan migrasi teknologi kartu debit dari magnetik ke cip mulai 1 Januari 2016. BI meminta aturan yang termaktub dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.16/1/2014 tentang perlindungan konsumen jasa sistem pembayaran tersebut tetap ditaati oleh pelaku di industri perbankan nasional.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo mengungkapkan, aturan yang telah dikeluarkan oleh bank sentral tersebut hingga saat ini masih berlaku. "Selama belum ada review kebijakan dari kami berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lain, akan tetap dianggap berjalan dan harus dipatuhi," tutur Agus, Jumat (11/9/2015).

Agus menyatakan, pihaknya akan menyampaikan jika toh memang ada review kebijakan terkait program migrasi ini. Namun sampai belum diambil keputusan baru, pelaku bisnis perbankan akan menerima segala konsekuensinya jika membangkang instruksi BI.

Agus mengingatkan, perbankan yang melanggar aturan akan menerima sanksi mulai dari teguran, denda, hingga pencabutan izin penyelenggara sistem pembayaran. Namun BI bukannya mau tutup mata atas kesulitan yang dihadapi para bankir.

BI mempersilakan industri penerbit kartu debit untuk menerapkan aturan teknologi cip secara bertahap alias step by step. Sikap BI ini merupakan jalan tengah ketimbang dari tuntutan pelaku industri yang meminta bank sentral memundurkan waktu penerapan aturan penggunaan teknologi cip dari semula 1 Januari menjadi 1 Juli 2016. Proses penerapan aturan bisa secara bertahap dimulai dengan pemasangan teknologi cip pada mesin anjungan tunai mandiri (ATM).

Selain itu, teknologi ini juga bisa secara bertahap di pasang pada mesin electronic data capture (EDC). Hingga kemudian, proses migrasi mulai dilakukan atas kartu debit nasabah. Dengan opsi pemberlakukan aturan secara bertahap, BI masih memiliki waktu untuk menelaah perusahaan pengelola sertifikasi mesin pembaca kartu, kartu, setting teknologi informasi, biaya, dan proses pergantian kartu nasabah. Ronald Waas, Deputi Gubernur BI mengatakan, pihaknya ingin memantau proses sertifikasi. "Jangan sampai membebani nasabah," tegas Ronald.

BI mengklaim, sejumlah bank besar tengah menjalankan aturan tersebut. Terlebih bank besar, mengingat kartu debit mereka yang beredar di masyarakat sangat banyak. Catatan BI hingga Juni 2015, jumlah kartu ATM dan debit yang beredar mencapai 104,51 juta kartu. Angka itu tumbuh 5,96 persen dibanding dengan posisi Desember 2014 yang berjumlah 98,63 juta kartu.

Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Budi Satria mengatakan, pihaknya tunduk pada aturan BI. "Tetapi mengingat jumlah pemegang kartu sangat banyak, tentu butuh waktu untuk verifikasi hingga penggantian kartu," ujarnya. (Dea Chadiza Syafina)

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erick Thohir Janji Akan Copot Komisaris BUMN yang Jarang Hadir Rapat

Erick Thohir Janji Akan Copot Komisaris BUMN yang Jarang Hadir Rapat

Whats New
Fakta GBK, Aset Negara Bernilai Paling Mahal, Sebagian Dikelola Swasta

Fakta GBK, Aset Negara Bernilai Paling Mahal, Sebagian Dikelola Swasta

Whats New
Erick Thohir Buka Suara Soal Adanya Komisaris BUMN yang Rangkap Jabatan

Erick Thohir Buka Suara Soal Adanya Komisaris BUMN yang Rangkap Jabatan

Whats New
5 Kesalahan Finansial yang Perlu Dihindari oleh Pasangan Baru Nikah

5 Kesalahan Finansial yang Perlu Dihindari oleh Pasangan Baru Nikah

Smartpreneur
Schneider Electric Gandeng iMasons untuk Perkuat Industri Infrastruktur Digital

Schneider Electric Gandeng iMasons untuk Perkuat Industri Infrastruktur Digital

Rilis
[POPULER MONEY] Tahapan yang Dilalui Penumpang Lion | Defisit Selalu Ditambal dengan Utang

[POPULER MONEY] Tahapan yang Dilalui Penumpang Lion | Defisit Selalu Ditambal dengan Utang

Whats New
Kader Gerindra Jadi Eksportir Lobster, Edhy: Keputusan Bukan Saya, Tapi Tim

Kader Gerindra Jadi Eksportir Lobster, Edhy: Keputusan Bukan Saya, Tapi Tim

Whats New
Erick Thohir Ingin Rampingkan BUMN Hingga Tersisa 40 Perusahaan Saja

Erick Thohir Ingin Rampingkan BUMN Hingga Tersisa 40 Perusahaan Saja

Whats New
Fakta Lobster, Dulunya Makanan Orang Miskin dan Narapidana

Fakta Lobster, Dulunya Makanan Orang Miskin dan Narapidana

Whats New
Erick Thohir: Jangan Hanya Siap Diangkat menjadi Pejabat, Tapi juga Harus Siap Dicopot

Erick Thohir: Jangan Hanya Siap Diangkat menjadi Pejabat, Tapi juga Harus Siap Dicopot

Whats New
Perkuat Aplikasi Pangan, BGR Logistics Gandeng HARA Technology

Perkuat Aplikasi Pangan, BGR Logistics Gandeng HARA Technology

Whats New
Pandemi Corona, Laba Produsen Mi Instan Korea Melonjak 361 Persen

Pandemi Corona, Laba Produsen Mi Instan Korea Melonjak 361 Persen

Whats New
Ada Pandemi Covid-19, Bagaimana Nasib Pendanaan Ibu Kota Baru?

Ada Pandemi Covid-19, Bagaimana Nasib Pendanaan Ibu Kota Baru?

Whats New
Melihat Peluang Bisnis Berpotensi Cuan Saat New Normal, Ini Caranya

Melihat Peluang Bisnis Berpotensi Cuan Saat New Normal, Ini Caranya

Work Smart
Penuhi Kebutuhan di Masa Pandemi, Belanja “Online” Jadi Solusi

Penuhi Kebutuhan di Masa Pandemi, Belanja “Online” Jadi Solusi

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X