Rekening TKI Tingkatkan Remitansi dan Cegah Potongan Gaji Berlebih

Kompas.com - 22/09/2015, 11:04 WIB
Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid, di Jakarta, Kamis (17/9/2015). Dok BNP2TKIKepala BNP2TKI, Nusron Wahid, di Jakarta, Kamis (17/9/2015).
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid dalam kunjungannya ke Singapura, Senin (21/9/2015), mengadakan diskusi three-partied bersama KBRI Singapura. Diskusi dihadiri ratusan agensi, Ketua Umum APJATI, Pimpinan BNI Singapura, serta perwakilan TKI.

Diskusi membahas beberapa hal pokok, salah satunya pemotongan gaji yang tidak sesuai dengan cost structure yang jumlahnya mencapai enam kali gaji. Dengan pemotongan itu, take home pay diterima oleh TKI hanya menjadi 50-70 dollar Singapura dan hal itu sudah berjalan selama 8 bulan.

"Oleh karena itu BNP2TKI turut serta menghadirkan perbankan dan mengumumkan program layanan keuangan terpadu. Salah satunya adalah pembayaran gaji yang ditransfer melalui rekening bank atas nama TKI tersebut di Singapura," kata Nusron, Selasa (22/9/2015).

Program tersebut disambut baik oleh semua pihak yang hadir dalam acara diskusi itu. Untuk itu, Nusron berharap adanya zero cost bagi TKI. Namun, jika dalam waktu dekat hal itu masih belum dapat dilaksanakan, program layanan keuangan terpadu adalah harapan.

"Sudah ada dua bank yang sudah melakukan MoU dan memiliki jaringan di Singapura, yakni BNI dan BII Maybank. Kedua bank ini yang akan melakukan proses pembukaan rekening atas nama TKI di Singapura sebelum TKI berangkat sehingga nomer rekening pembayaran gaji dapat dimasukkan ke dalam kontrak," ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Nusron, TKI dengan kontrak baru sudah bisa langsung mendapatkan pelayanan pembukaan rekening sehingga gajinya bisa langsung masuk ke rekening. Dengan solusi itu, dia meyakini pemotongan gaji berlebihan oleh PPTKIS bisa dihindari. Selain itu, remitansi juga akan naik seiring meningkatnya instrumen keuangan formal.

"Kami melakukan upaya ini untuk meminimalisir adanya potongan gaji yang tidak sesuai dengan cost structure. Kehadiran perbankan nasional untuk ikut memberikan fasilitas bagi TKI akan menghilangkan praktik-praktik ilegal, seperti jual beli blanko, karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ikut mengawasi dengan ketat hal ini," ujar Nusron.

Selain itu, multiplier effect dari program ini adalah meleknya TKI dan keluarganya dengan instrumen keuangan dan akses terhadap jasa keuangan formal. Dengan begitu, remitansi dari TKI di Singapura akan meningkat tiga lipat.

Sebagai gambaran, lanjut Nusron, remitansi di seluruh negara di Asia mengalami pertumbuhan. Namun, Singapura justru mengalami penurunan sampai 5.78 persen.

Menurut dia, penurunan itu bisa disebabkan oleh tiga hal. Pertama, gaji TKI di Singapura masih lebih rendah dibandingkan negara lain. Kedua, para TKI tidak memahami akses keuangan formal. Adapun sebab ketiga adalah adanya pihak tidak bertanggung jawab yang telah melakukan potongan berlebihan.

Di situlah, lanjut Nusron, dirinya berharap sistem layanan keuangan terpadu bisa berjalan. Sistem ini akan mewajibkan TKI membuka rekening untuk pembayaran gaji. 

"Ini bisa menjadi solusi atas praktik pemotongan gaji dan sekaligus sebagai upaya meningkatkan remitansi dari TKI," kata Nusron.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X