"Brexit" Jadi Tantangan Baru APBN 2017

Kompas.com - 13/07/2016, 15:11 WIB
Foto patung Winston Churchill menghadap AP Photo/Matt DunhamFoto patung Winston Churchill menghadap "Houses of Parliament" London, Jumat (24/6/2016).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemulihan ekonomi dunia diperkirakan masih belum signifikan tahun depan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan pemulihan ekonomi dunia masih tertahan oleh lemahnya permintaan, ketidakpastian pasar, dan moderasi pasar komoditas.

Suahasil menyatakan, lemahnya permintaan, ketidakpastian pasar, dan moderasi pasar komoditas tersebut akan berdampak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. Malah, tantangan APBN 2017 bertambah dengan adanya hasil referendum Inggris Raya keluar dari Uni Eropa (Brexit).

"Hasil referendum, Brexit, turut menciptakan volatilitas di pasar keuangan dan menambah risiko ketidakpastian pada ekonomi global," kata Suahasil dalam rapat badan anggaran di Jakarta, Rabu (13/7/2016).

Lebih jauh dia bilang, ketidakpastian pasar keuangan global dapat memicu ketatnya arus modal ke dalam emerging market dan apresiasi dollar AS yang lebih jauh. Peningkatan volatilitas di pasar keuangan global tersebut berpotensi memberikan tekanan kepada portofolio utang, baik di sektor swasta maupun publik.

Suahasil menuturkan, perekonomian Indonesia tahun 2017 juga akan banyak dipengaruhi faktor global seperti salah satunya adanya penyesuaian proyeksi ekonomi global oleh Dana Moneter Internasional dari 3,4 persen menjadi 3,2 persen, serta oleh Bank Dunia dari 2,9 persen menjadi 2,4 persen.

Perubahan proyeksi ini dikarenakan negara maju belum mencapai tingkat full employment. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga masih moderat. Penyesuaian ekonomi dunia terhadap kondisi tersebut diperkirakan juga masih terus berlanjut.

Terlebih dampaknya kepada perdagangan, sektor keuangan, dan investasi global. Suahasil juga menyatakan, kombinasi harga komoditas yang moderat dan lemahnya permintaan global dapat menciptakan tekanan bagi negara pengekspor komoditas.

Diperkirakan rendahnya harga komoditas masih akan terus terjadi antara tiga hingga lima tahun ke depan.

"Kombinasi kebijakan moneter negara maju, antara normalisasi kebijakan moneter The Fed serta kebijakan pelonggaran moneter oleh ECB dan BoJ berpotensi menciptakan ketidakpastian dan gejolak di pasar keuangan global. Sinyalemen kenaikan suku bunga The Fed memberikan sentimen terhadap pergerakan mata uang termasuk Rupiah," pungkas Suahasil.

Kompas TV Dampak Brexit, Bank Italia Alami Kredit Macet

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fakta GBK, Aset Negara Bernilai Paling Mahal, Sebagian Dikelola Swasta

Fakta GBK, Aset Negara Bernilai Paling Mahal, Sebagian Dikelola Swasta

Whats New
Erick Thohir Buka Suara Soal Adanya Komisaris BUMN yang Rangkap Jabatan

Erick Thohir Buka Suara Soal Adanya Komisaris BUMN yang Rangkap Jabatan

Whats New
5 Kesalahan Finansial yang Perlu Dihindari oleh Pasangan Baru Nikah

5 Kesalahan Finansial yang Perlu Dihindari oleh Pasangan Baru Nikah

Smartpreneur
Schneider Electric Gandeng iMasons untuk Perkuat Industri Infrastruktur Digital

Schneider Electric Gandeng iMasons untuk Perkuat Industri Infrastruktur Digital

Rilis
[POPULER MONEY] Tahapan yang Dilalui Penumpang Lion | Defisit Selalu Ditambal dengan Utang

[POPULER MONEY] Tahapan yang Dilalui Penumpang Lion | Defisit Selalu Ditambal dengan Utang

Whats New
Kader Gerindra Jadi Eksportir Lobster, Edhy: Keputusan Bukan Saya, Tapi Tim

Kader Gerindra Jadi Eksportir Lobster, Edhy: Keputusan Bukan Saya, Tapi Tim

Whats New
Erick Thohir Ingin Rampingkan BUMN Hingga Tersisa 40 Perusahaan Saja

Erick Thohir Ingin Rampingkan BUMN Hingga Tersisa 40 Perusahaan Saja

Whats New
Fakta Lobster, Dulunya Makanan Orang Miskin dan Narapidana

Fakta Lobster, Dulunya Makanan Orang Miskin dan Narapidana

Whats New
Erick Thohir: Jangan Hanya Siap Diangkat menjadi Pejabat, Tapi juga Harus Siap Dicopot

Erick Thohir: Jangan Hanya Siap Diangkat menjadi Pejabat, Tapi juga Harus Siap Dicopot

Whats New
Perkuat Aplikasi Pangan, BGR Logistics Gandeng HARA Technology

Perkuat Aplikasi Pangan, BGR Logistics Gandeng HARA Technology

Whats New
Pandemi Corona, Laba Produsen Mi Instan Korea Melonjak 361 Persen

Pandemi Corona, Laba Produsen Mi Instan Korea Melonjak 361 Persen

Whats New
Ada Pandemi Covid-19, Bagaimana Nasib Pendanaan Ibu Kota Baru?

Ada Pandemi Covid-19, Bagaimana Nasib Pendanaan Ibu Kota Baru?

Whats New
Melihat Peluang Bisnis Berpotensi Cuan Saat New Normal, Ini Caranya

Melihat Peluang Bisnis Berpotensi Cuan Saat New Normal, Ini Caranya

Work Smart
Penuhi Kebutuhan di Masa Pandemi, Belanja “Online” Jadi Solusi

Penuhi Kebutuhan di Masa Pandemi, Belanja “Online” Jadi Solusi

Spend Smart
Mentan Yakinkan Petani Mudah Dapatkan KUR dari LKM-A dan Koptan

Mentan Yakinkan Petani Mudah Dapatkan KUR dari LKM-A dan Koptan

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X