HM Sampoerna Potong Rantai Penjualan Tembakau lewat Kemitraan

Kompas.com - 31/07/2016, 16:18 WIB
Hamparan Tanaman Tembakau, di Desa Sukowono, Jember, (30/7/2016) KOMPAS.com/Achmad FauziHamparan Tanaman Tembakau, di Desa Sukowono, Jember, (30/7/2016)
Penulis Achmad Fauzi
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JEMBER, KOMPAS.com - PT Hanjaya Mandala Sampoerna tbk (HM Sampoerna) menggunakan sistem kemitraan untuk memasok tembakau dari petani Indonesia.

Sistem kemitraan ini diyakini bisa memotong rantai penjualan daun tembakau yang cukup panjang.

Head of Regulatory Affair, Intenasional Trade and Communications HM Sampoerna, Elvira Lianita menjelaskan nantinya melaui sistem kemitraan para petani dapat langsung menjual daun tembakau ke perusahaan tanpa melalui proses dari pengepul.

"Petani yang bukan mitra pada umumnya tidak punya akses langsung dengan perusahaan atau gudang untuk melakukan penjualan. Biasanya menjualnya melalui pengepul jadi rantainya cukup panjang. Kalau mitra bisa langsung kepada perusahaa. Jadi kita memotong mata rantai," ujarnya, usai meninjau pertanian tembakau, di Desa Sukowono, Jember, Sabtu (30/7/2016).

Elvira menuturkan, dalam sistem ini HM Sampoerna akan membeli semua daun tembakau dari yang dihasilkan oleh petani. Sehingga, para petani tembakau mendapat jaminan pembelian walaupun hasil tanamnya kurang baik.

Dia juga mengungkapkan sampai saat ini ada 27.000 petani tembakau di Indonesia yang sudah bermitra dengan HM Sampoerna. Dari 27.000 petani tersebut akan menggarap lahan tembakau seluas 22.700 hektare.

"Kami harap sistem ini bisa meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau di Indonesia," ucapnya.

Sementara itu, salah satu petani tembakau Muhammad Dahlal mengatakan dengan sistem tersebut penjualan daun tembakau juga meningkat. Menurut dia, dengan kemitraan HM Sampoerna pihaknya bisa menjual daun tembakau sebesar Rp 35.000 per kilo gram. Namun, jika tidak melalui kemitraan dirinya hanya bisa menjual Rp 10.000 per kilo gram.

"Selama bermitra belum pernah rugi. Pas Gunung Raung mengeluarkan abu, bikin tembakau bermutu rendah tetap dibeli harga normal sesuai kontrak kemitraan," pungkas Dahlal.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X