Kompas.com - 03/10/2016, 18:30 WIB
Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo, Jakarta, Kamis (1/9/2016). Estu Suryowati/KOMPAS.comDeputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo, Jakarta, Kamis (1/9/2016).
|
EditorM Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, keputusan pemerintah mengerek tarif cukai hasil tembakau rata-rata tertimbang sebesar 10,54 persen dan harga jual eceran sebesar 12,26 persen akan berdampak terhadap indeks harga konsumen atau inflasi.

Namun begitu, Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo meyakini konsumen tidak akan terlalu merasakan kenaikan harga rokok tersebut.

Sebab, pedagang diperkirakan akan menaikkan harga jual rokok ke konsumen secara bertahap.

"Pedagang rokok itu lihai. Mereka enggak akan langsung menaikkan harga rokoknya 10 persen, tetapi kenaikannya disebar selama 10-12 bulan. Jadi, konsumen enggak akan terlalu merasakan kenaikan harga," kata Sasmito di Jakarta, Senin (3/10/2016).

Pada bulan September 2016, BPS mencatat terjadi inflasi rokok kretek filter sebesar 0,02 persen dan rokok sigaret putih mesin sebesar 0,01 persen.

Rokok tercatat menjadi penyumbang inflasi September yang sebesar 0,22 persen di samping biaya sewa rumah dan biaya kuliah serta listrik.

Kepala BPS Suhariyanto menengarai, kenaikan harga rokok pada bulan lalu dikarenakan isyu kenaikan tarif cukai hasil tembakau.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal tarif cukai hasil tembakau baru naik mulai Januari 2017. "Penyebabnya lebih karena isu, karena saat itu ramai sekali pembicaraan bahwa rokok akan naik tinggi sekali minimal menjadi Rp 50.000. Dan itu yang membuat pedagang eceran menaikkan harga rokok," kata Suhariyanto.

Sebelumnya, Menteri Keuangan mengeluarkan kebijakan cukai baru yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 147/PMK.010/2016.

Dalam regulasi baru ini, kenaikan tarif tertinggi cukai hasil tembakau adalah sebesar 13,46 persen untuk jenis hasil tembakau Sigaret Putih Mesin (SPM) dan terendah adalah nol persen untuk hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan III B, dengan kenaikan rata-rata tertimbang sebesar 10,54 persen.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.