Koalisi Mahasiswa Kritik Kebijakan Interkoneksi PSTN dan Seluler

Kompas.com - 17/10/2016, 22:57 WIB
Ilustrasi TOTO SIHONOIlustrasi
Penulis Aprillia Ika
|
EditorAprillia Ika

KOMPAS.com - Koalisi Mahasiswa Indonesia Timur Mengawal Nawacita (KOMITMEN) yang menyoroti rencana penetapan kebijakan interkoneksi untuk jaringan telepon tetap (PSTN) dan nirkabel (seluler). Hal tersebut dinyatakan oleh KOMITMEN dalam rapat konsolidasi yang dilaksanakan di Kedai Kopi Perjuangan di Jakarta Pusat, Minggu (16/10/2016).

Menurut lembaga ini, kebijakan interkoneksi yang akan ditetapkan hendaknya memperhatikan azas keadilan sehingga tidak merugikan negara dan masyarakat. Selain itu KOMITMEN meminta agar putusan kebijakan pemerintah tersebut tidak diintervensi oleh operator telekomunikasi asing yang punya kepentingan langsung terhadap penetapan kebijakan interkoneksi.

Juru bicara KOMITMEN Muhamad Zen Weil, yang juga Koordinator KOMITMEN wilayah Maluku dan Papua mengatakan, dalam menetapkan biaya interkoneksi pemerintah juga harus menghindari dampak negatif jangka panjang kebijakan tersebut bagi masyarakat.

"Kuncinya adalah pemerintah harus adil, dan itu bisa diterapkan melalui penetapan biaya interkoneksi berdasarkan biaya operator telekomunikasi masing-masing (cost based)," kata dia melalui rilis pers ke Kompas.com.

Sebelumnya, berdasarkan hasil pertemuan para operator telekomunikasi dengan Komisi I DPR RI pada 25 Agustus 2016 lalu, diketahui biaya interkoneksi tiap-tiap operator telekomunikasi tidak sama.

Telkom Group Rp 285 per menit, XL Axiata Rp 65 per menit, Indosat Ooredoo Rp 86 per menit, H3I Rp 120 per menit, dan Smartfren Rp 100 per menit.

Dari paparan tersebut, KOMITMEN menilai rencana pemerintah menurunkan biaya interkoneksi yang semula Rp 250 permenit menjadi Rp 204 permenit tidak fair dan mencederai azas keadilan.

Muhammad Zen Weil mengatakan, KOMITMEN telah melakukan konsolidasi di berbagai wilayah di Indonesia Timur untuk memantau kebijakan interkoneksi tersebut.

Jika nantinya kebijakan interkoneksi yang ditetapkan oleh pemerintah keluar dari koridor di atas, KOMITMEN siap mengampanyekan GERAKAN SIMPATIK agar mahasiswa dan masyarakat di Indonesia Timur hanya menggunakan satu nomor operator telekomunikasi saja.

"Langkah ini kami lakukan sebagai respons kekecewaan kami atas penetapan biaya interkoneksi yang tak sesuai dengan yang diharapkan," pungkas dia.

Tunda Interkoneksi

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X