BI Terus Pantau Perkembangan Pemilihan Presiden AS

Kompas.com - 20/10/2016, 20:41 WIB
Hillary Clinton dan Donald Trump dalam debat kedua mereka sebagai kandidat Presiden AS pada Minggu (9/10/2016) malam waktu setempat di Universitas Washington, St Louis, Missouri REUTERS/Lucy NicholsonHillary Clinton dan Donald Trump dalam debat kedua mereka sebagai kandidat Presiden AS pada Minggu (9/10/2016) malam waktu setempat di Universitas Washington, St Louis, Missouri
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) menyatakan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan pemilihan presiden di AS.

Pasalnya, kedua kandidat presiden, yakni Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik memiliki kebijakan yang sangat bertolak belakang satu sama lain.

“Dampak pemilu (di AS) terus kami cermati, karena di antara dua kubu memang punya kebijakan yang berbeda,” kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Juda mengungkapkan, bank sentral akan mencermati seluruh perkembangan yang ada. Ia menjelaskan, di berbagai belahan dunia memang ada pemimpin negara yang cenderung menerapkan kebijakan proteksionisme maupun ekonomi terbuka.

Kebijakan-kebijakan semacam itu yang nantinya akan diusung oleh presiden terpilih AS, yang tentunya akan memberikan dampak baik ke perekonomian global maupun Indonesia.

Meskipun demikian, Juda menuturkan, masih cenderung sulit untuk memastikan dampak yang akan terjadi.

“Akan tetapi, secara risiko kita bisa lihat bahwa kalau yang proteksionisme aka nada dampak negatif terhadap perekonomian global dan domestik,” jelas Juda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemilihan presiden di AS akan diselenggarakan pada bulan November 2016 mendatang. Hingga kini, persaingan antara Trump maupun Hillary masih terus berjalan ketat, baik dalam kampanye, pendukung, hingga debat kandidat presiden yang baru saja berakhir pada Rabu (19/10/2016) waktu setempat.

Beberapa pihak memandang, apabila Trump memenangkan pilpres AS, maka akan ada dampak negatif kepada perekonomian lantaran kebijakan proteksionisme yang diusungnya.

Salah satu kebijakan Trump yang lainnya adalah ia berencana menurunkan pajak untuk orang-orang kaya di AS.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Saham-saham Ini Berpotendi Dilepas BP Jamsostek, Apa Kata Analis?

Saham-saham Ini Berpotendi Dilepas BP Jamsostek, Apa Kata Analis?

Whats New
PT Ferron Par Pharmaceuticals Pasang PLTS 3.000 Meter Persegi di Cikarang

PT Ferron Par Pharmaceuticals Pasang PLTS 3.000 Meter Persegi di Cikarang

Rilis
Masih Dibayangi Lonjakan Kasus Covid-19, IHSG Menguat, Rupiah Stagnan

Masih Dibayangi Lonjakan Kasus Covid-19, IHSG Menguat, Rupiah Stagnan

Whats New
Ekspor Dilarang, KKP Selamatkan Rp 138,4 Miliar dari Penyelundupan Benih Lobster

Ekspor Dilarang, KKP Selamatkan Rp 138,4 Miliar dari Penyelundupan Benih Lobster

Whats New
Kurs Rupiah di 5 Bank Hari Ini

Kurs Rupiah di 5 Bank Hari Ini

Whats New
Rincian Harga Emas Antam Hari Ini Mulai dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Rincian Harga Emas Antam Hari Ini Mulai dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Whats New
Dideportasi dari Malaysia, 145 Pekerja Migran Bermasalah Langsung Dikarantina

Dideportasi dari Malaysia, 145 Pekerja Migran Bermasalah Langsung Dikarantina

Whats New
Kasus Covid-19 Tinggi, Penerbangan dari Indonesia Dilarang Masuk Hong Kong Mulai Hari Ini

Kasus Covid-19 Tinggi, Penerbangan dari Indonesia Dilarang Masuk Hong Kong Mulai Hari Ini

Whats New
[POPULER MONEY] BPK Minta BP Jamsostek Lepas Sejumlah Saham | Cara Cek NIK KTP Secara Online

[POPULER MONEY] BPK Minta BP Jamsostek Lepas Sejumlah Saham | Cara Cek NIK KTP Secara Online

Whats New
Pelni Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1 Perkapalan, Ini Cara Daftarnya

Pelni Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1 Perkapalan, Ini Cara Daftarnya

Whats New
Fitur Biometrik Dikembangkan, Buka Rekening di BSI Mobile Tak Sampai 5 Menit

Fitur Biometrik Dikembangkan, Buka Rekening di BSI Mobile Tak Sampai 5 Menit

Rilis
Dalam Forum G20-LEMM, Sekjen Kemenaker Paparkan 4 Komitmen RI Terkait Isu Ketenagakerjaan

Dalam Forum G20-LEMM, Sekjen Kemenaker Paparkan 4 Komitmen RI Terkait Isu Ketenagakerjaan

Rilis
Kerap Dicatut, KSEI Tegaskan Tak Pernah Tawarkan Investasi

Kerap Dicatut, KSEI Tegaskan Tak Pernah Tawarkan Investasi

Whats New
13 Sektor Industri Minta Jatah Gas Subsidi

13 Sektor Industri Minta Jatah Gas Subsidi

Whats New
RUU Perlindungan Data Pribadi dan Monetisasi Jejak Digital Pengguna

RUU Perlindungan Data Pribadi dan Monetisasi Jejak Digital Pengguna

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X