Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakaian Bekas Selundupan, Hambatan bagi Industri "Fashion" Nasional

Kompas.com - 01/02/2017, 14:53 WIB
Pramdia Arhando Julianto

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Banjir produk pakaian impor dan praktik penyelundupan pakaian bekas menjadi penghambat perkembangan industri fashion dalam negeri.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto saat membuka gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 di Jakarta Convention Centre, Rabu (1/2/2017).

"Industri fashion nasional menghadapi berbagai permasalahan, antara lain membanjirnya produk fashion impor serta penyelundupan pakaian bekas (ball press)," ujar Airlangga. 

Menurut dia, permasalahan tersebut sudah mengancam keberlangsungan industri fashion dalam negeri yang berdampak pada penurunan utilitas, pangsa pasar, dan daya saingnya di pasar domestik.

Bukan tanpa alasan, industri fashion merupakan salah satu dari 16 kelompok industri kreatif yang berperan penting dalam perekonomian nasional.

Industri fashion juga mampu berkontribusi besar terhadap devisa negara, pendapatan domestik bruto (PDB) nasional, dan penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor produk fashion pada tahun 2015 mencapai 12,11 miliar dollar AS dengan pasar utama Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang.

Sementara itu, kontribusi industri fashion terhadap PDB nasional sebesar 1,21 persen dan mampu menyerap tenaga kerja mencapai 2 juta orang atau 14,7 persen dari total tenaga kerja di sektor industri.

Menperin menegaskan, melihat potensi dan geliat industri fashion nasional maka perlu dilakukan berbagai upaya, salah satunya bersinergi dalam menindak tegas praktik nakal penyelundupan pakaian bekas.

"Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, dan Kepolisian Republik Indonesia akan melakukan tindakan tegas kepada para pelaku penyelundupan," tegas politisi Partai Golkar tersebut.

Selain itu, Airlangga mengungkapkan, ada permasalahan lain, seperti tingginya impor bahan baku dan bahan penolong.

Mulai dari impor kain, benang, dan kulit finished yang digunakan sebagai bahan baku utama industri fashion.

Sementara produk industri tekstil, penyamakan kulit, dan aksesori dalam negeri tidak terserap sepenuhnya.

"Untuk itu, kami mengimbau kepada para desainer dan para pelaku usaha industri fashion agar mulai menggunakan bahan baku, bahan penolong, dan aksesori produksi dalam negeri," pungkasnya.

Sebelumnya, pada Desember 2016, petugas Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menggagalkan penyelundupan 30 ton pakaian bekas dari Malaysia di Perairan Tanjung Jumpul, Asahan, Sumatera Utara (Sumut).

Pada Agustus 2016, juga telah diamankan oleh Polda Metro Jaya 2.216 bal pakaian bekas berasal dari Jepang dan Korea di kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Kompas TV "Fashion" ala Presiden Joko Widodo

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com