Menpar: Aneh, Wisata Bahari Indonesia Kalah dari Malaysia

Kompas.com - 07/02/2017, 16:48 WIB
Parade perahu oleh nelayan di Kota Borong untuk memeriahkan HUT ke-71 RI sekaligus mempromosikan pariwisata bahari di sekitar Dermaga Borong, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, Manggarai Timur, Flores, NTT, Jumat (19/8/2016). KOMPAS.COM/MARKUS MAKURParade perahu oleh nelayan di Kota Borong untuk memeriahkan HUT ke-71 RI sekaligus mempromosikan pariwisata bahari di sekitar Dermaga Borong, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, Manggarai Timur, Flores, NTT, Jumat (19/8/2016).
Penulis Achmad Fauzi
|
EditorM Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan, pariwisata bahari Indonesia masih kalah jauh dari Malaysia.

Dari sisi pendapatan, misalnya, pariwisata bahari Malaysia menyumbangkan devisa sebesar Rp 106,6 triliun atau 8 miliar dollar AS pada 2016. Perolehan itu 40 persen dari total pendapatan devisa sebesar Rp 266,5 triliun atau 20 miliar dollar AS.

Sementara itu, sumbangan devisa wisata bahari Indonesia Rp 13,3 triliun atau 1 miliar dollar AS. Perolehan tersebut hanya 1 persen dari total pendapatan devisa saat ini sebesar Rp 133,2 triliun atau 10 miliar dollar AS.

"Saya kesal Indonesia kalah dari Malaysia karena ini aneh. Sebab, kita tahu Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia," ujar Arief saat ditemui di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (7/2/2017).

Menurut dia, salah satu yang menghambat perkembangan wisata bahari Indonesia adalah regulasi. Meski demikian, pihaknya terus berusaha menarik wisatawan untuk mengunjungi area wisata bahari.

Salah satunya dengan meniadakan perizinan masuk kapal yatch atau Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT). Hal ini dilakukan untuk menarik kapal yatch masuk ke Indonesia.

"Alhasil, kapal yatch yang masuk ke Indonesia naik 2 kali lipat dari 750 yatch di tahun 2015 menjadi 1.500 yatch pada 2016," ujarnya.

Selain itu, dirinya pun menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengembangkan wisata bahari di Indonesia. Salah satunya dengan menambah kurikulum pelajaran mengenai wisata bahari, khususnya pemandu wisata (tourist guide), di Sekolah Perikanan yang dikelola KKP.

"Kalau kedua kementerian sinergi, maka saya bisa pastikan wisata bahari negara ini tidak bisa dikalahkan," tandasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X