Dana Repatriasi Amnesti Pajak yang Masuk Pasar Modal Terus Bertambah

Kompas.com - 10/03/2017, 22:00 WIB
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Petugas melayani warga yang mengikuti program pengampunan pajak (Tax Amnesty) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat, 30/9/2016. Banyaknya warga yang antre sejak pagi karena hari ini merupakan hari terakhir periode I program tax amnesty.

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) optimistis semakin banyak dana repatriasi dari program pengampunan pajak atau tax amnesty yang masuk ke pasar modal. Hal ini terlihat dari jumlah dana yang masuk ke pasar modal saat ini sudah mencapai Rp 9 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan, dana dari amnesti pajak akan secara bertahap masuk ke pasar modal. Besarnya dana yang sudah masuk tersebut pun sesuai dengan prediksinya.

"Setelah dana ini mengendap di gateway, kemudian pemilik dana kelihatannya mulai mencari instrumen yang bisa memberikan return (imbal hasil) yang sesuai dengan harapan mereka," kata Nurhaida di Kantor Kementerian Keuangan, Jumat (10/3/2017).

Nurhaida menuturkan, instrumen pasar modal pada dasarnya dapat memberikan imbal hasil yang menarik. Bahkan, produk pasar modal menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan produk perbankan. Meskipun demikian, masing-masing produk tentu saja memiliki risiko.

Namun begitu, Nurhaida tetap meyakini akan semakin banyak dana amnesti pajak yang diinvestasikan ke produk pasar modal.

"Dengan pertumbuhan atau masuk ke pasar modal sekarang cukup signifikan saya rasa ke depan akan makin banyak masuk ke pasar modal," ujar Nurhaida.

Ia menyebut, tugas penting OJK adalah menjaga agar pasar modal tetap dapat dipercaya. Hal itu tidak mudah, karena bisa saja berbagai risiko terjadi dan berpengaruh terhadap kinerja pasar modal dan kepercayaan masyarakat pula.

"Tidak jarang itu membuat tergerus kepercayaan masyarakat. Harus kita bina lagi, kami lakukan enforcement, kita galakkan lagi ketentuan-ketentuan sehingga masyarakat kemudian mulai percaya lagi," tutur Nurhaida.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorM Fajar Marta
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X