Kompas.com - 07/04/2017, 18:41 WIB
Presiden AS, Donald Trump. JIM WATSON / AFP Presiden AS, Donald Trump.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuding Indonesia dan 15 negara lainnya kerap bertindak curang dalam perdagangan bilateral.

Trump bahkan meminta Menteri Perdagangan AS untuk melalukan investigasi kepada 16 negara mitra dagang AS lainnya dalam 90 hari ke depan. Lantas apa langkah pemerintah?

"Kemarin Pak Darmin (Menteri Koordinator Perekonomian) bilang selidiki dulu kemungkinan dampaknya kepada kita," kata Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Perekonomian, Eddy Putra Irawadi Jumat (7/4/2017).

Tudingan Trump kepada Indonesia atas dasar defisitnya neraca perdagangan AS. Tahun lalu defisit perdagangan AS-RI mencapai 8,4 miliar dollar AS.

Lantaran tudingan itu terkait perdagangan, pemerintah memerintahkan para pengusaha atau eksportir untuk lebih memperhatikan ketentuan anti-dumping, sehingga tidak dianggap melakukan kecurangan dalam kegiatan ekspor terutama ke AS.

Eksportir yang mendapatkan sorotan yakni eksportir kertas. Selama ini, komoditas ekspor kertas RI kerap terkena tarif dumping dari sejumlah negara. Oleh karena itu para eksportir kertas diminta untuk memperhatikan ketentuan anti-dumping.

"Supaya asal jangan merebut pasar dan yang paling banyak kita itu kena di komoditas kertas. Saya melihat ini lebih banyak karena persaingan bisnis," kata Eddy.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski begitu, pemerintah membantah keras tudingan Donald Trump yang menyebut Indonesia melakukan kecurangan dalam perdagangan dengan AS.

(BACA: Bank Indonesia Yakin RI Lolos dari "Investigasi" Trump)

Menteri Perdagangan Enggartiasto mengatakan, pemerintah akan membuat daftar komoditas ekspor yang berpotensi dipermasalahkan oleh AS. Ia mengatakan barang ekspor Indonesia ke AS terdiri dari banyak komoditas.

Bahkan AS adalah negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai 15,6 miliar dollar AS, sedangkan impor hanya 7,2 miliar dollar AS. Artinya neraca perdagangan Indonesia surplus 8,4 milliar dollar AS.

Sementara itu, neraca dagang dengan mitra dagang besar lainya yakni Tiongkok, Indonesia mengalami defisit 15,6 miliar dollar AS. Adapun dengan Jepang, neraca perdagangan Indonesia hanya surplus 0,3 miliar dollar AS.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.