Menko Luhut Sebut Indonesia Tak Bergantung pada China

Kompas.com - 12/07/2017, 14:33 WIB
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Mineral Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (12/7/2017). KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTOMenteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Mineral Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (12/7/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, saat ini Indonesia tidak hanya bergantung pada China dalam hal investasi.

Menurutnya, negara-negara lain juga tengah bersaing untuk bisa berinvestasi di Indonesia termasuk negara sekelas Amerika Serikat sekalipun.

"Kenapa China berbondong-bondong investasi ke mari (Indonesia) Jepang juga bersaing. Kalau orang bicara kita (Indonesia) tergantung ke China nanti dulu. Kalau dia kasih bunga murah, term murah kenapa tidak," ungkap Luhut di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (13/7/2017).

Kendati demikian, lanjut Luhut, Indonesia juga tak selalu menggantungkan diri pada investasi dari negara lain dalam hal pembangunan.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki berbagai potensi untuk berdiri di kaki sendiri. Salah satunya adalah melalui penerimaan pajak dalam negeri dan juga program tax amnesty yang bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

"Sebagai negara kepulauan kita sekarang menata ekonomi bagus, kita masih ada problem purchasing power, ada gini rasio, tax rasio. Melalui tax amnesty saya harap penerimaan pajak kita bisa bertambah," papar Luhut.

Selain itu, disamping adanya penerimaan pajak, Indonesia juga tengah menjajaki aturan keterbukaan informasi perpajakan yang dinilai akan berdampak pada peningkatan penerimaan perpajakan.

"Kita mulai masuk AEOI (Automatic Exchange of Information atau keterbukaan informasi perpajakan). Itu membuat kita mulai dengan transparan. Saya harap 2 sampai 3 tahun terkahir, kita bisa mungkin 1.800 triliun (penerimaan pajak) bisa bayangkan kita bisa banyak bangun," kata Luhut.

Seperti diketahui, pemerintah tengah merevisi target penerimaan perpajakan tahun 2017.

Berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017, target penerimaan perpajakan diusulkan menjadi Rp 1.458,9 triliun dari target sebelumnya Rp 1.498,9 triliun.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X