Produksi Emas Freeport Merosot 72,77 Persen di Kuartal I 2019, Ini Sebabnya

Kompas.com - 29/04/2019, 16:58 WIB
Pemandangan area tambang Grasberg Mine di Kabupaten Mimika, Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, Minggu (15/2). Lubang menganga sedalam 1 kilometer dan berdiameter sekitar 4 kilometer itu telah dieksploitasi Freeport sejak 1988. Hingga kini, cadangan bijih tambang di Grasberg Mine tersisa sekitar 200 juta ton dan akan benar-benar habis pada 2017 nanti.

Kompas/Aris Prasetyo (APO)
15-02-2015     ARIS PRASETYOPemandangan area tambang Grasberg Mine di Kabupaten Mimika, Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, Minggu (15/2). Lubang menganga sedalam 1 kilometer dan berdiameter sekitar 4 kilometer itu telah dieksploitasi Freeport sejak 1988. Hingga kini, cadangan bijih tambang di Grasberg Mine tersisa sekitar 200 juta ton dan akan benar-benar habis pada 2017 nanti. Kompas/Aris Prasetyo (APO) 15-02-2015

JAKARTA, KOMPAS.com - Seperti yang sudah diperkirakan, produksi mineral emas dan tembaga PT Freeport Indonesia merosot dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini disebabkan karena adanya masa transisi pengalihan metode penambangan dari tambang terbuka ke tambang bawah bawah (underground mine).

Penurunan tersebut tampak dalam laporan kinerja Kuartal I tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Freeport-McMoran Inc (FCX). Berdasarkan laporan tersebut, produksi tembaga PTFI hanya menyentuh angka 145 juta pon, atau merosot sebesar 53,38 persen dari produksi kuartal I tahun lalu yang berada di angka 311 juta pon.

Baca juga: Peralihan Bisnis Tambang Freeport Bikin Salah Satu Penerimaan Negara Anjlok

Tak hanya tembaga, produksi emas dari perusahaan yang operasional pertambangannya berada di Papua itu pun turut anjlok. Hingga 31 Maret 2019, produksi emas PTFI melorot 72,77 persen menjadi 162.000 ounce dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 595.000 ounce.

Sejalan dengan penurunan produksi, volume penjualan pun juga turut merosot. Penjualan tembaga PTFI sepanjang Kuartal I-2019 hanya mencapai 174 juta pon, atau anjlok 45,45 persen dibandikan dengan penjualan periode yang sama tahun 2018 yang sebesar 319 juta pon.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sedangkan, volume penjualan emas PTFI turun menjadi 235.000 ounce atau turun 61,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 603.000 ounce.

Baca juga: Habis Sejak 15 Februari, Pemerintah Kembali Beri Izin Ekspor Freeport

Kendati demikian, Chief Executive Officer FCX Richard C Adkerson mengatakan bahwa transisi penambangan bawah tanah di Grasberg, Papua, masih berjalan sesuai yang ditargetkan. Ia juga menyebut, saat ini PTFI tengah melakukan penambangan fase akhir di tambang terbuka Grasberg.

"Transisi kami pada penambangan bawah tanah di Grasberg maju sesuai rencana," kata Adkerson.

Adapun, perkiraan pengeluaran modal tahunan PTFI untuk proyek pengembangan tambang bawah tanah tersebut diperkirakan mencapai rata-rata 0,7 miliar dollar AS per tahun, selama empat tahun ke depan.

Baca juga: Inalum Merugi Pasca Akuisisi PT Freeport Indonesia, Benarkah?

Tambah Kuota Ekspor

Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.