Kompas.com - 19/08/2019, 18:32 WIB
Kementerian di bawah Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan tentang Nota Keuangan dan RAPBN 2020 dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/8/2019). KOMPAS.COM/FIKA NURUL ULYAKementerian di bawah Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan tentang Nota Keuangan dan RAPBN 2020 dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menargetkan tingkat inflasi hingga akhir tahun di kisaran 3,1 persen. Angka tersebut sama dengan realisasi inflasi tahun 2018 lalu yang sebesar 3,13 persen.

Wakil Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Eko Listiyanto mengatakan, target inflasi tersebut bakal sulit dicapai. Sebab, meski secara keseluruhan hingga akhir Juli 2019 realisasi inflasi sebesar 3,32 persen, namun kenaikan barang bergejolak mencapai 4,9 persen, terutama bahan pangan 4,85 persen.

"Target inflasi di 3,1 persen susah dicapai. Sebetulnya sekarang masih 3,32 pesen dan inflasi semakin bersumber dari hal-hal yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak. Inflasi barang bergejolak hampir 5 persen walau inflasi umum 2,3 persen. Hampir dua kali lipan," ujar Eko di Jakarta, Senin (19/8/2019).

Eko menilai, tingginya kenaikan harga barang-barang bergejolak merupakan salah satu bukti pemerintah telah gagak mengendalikan harga bahan pangan. Meski inflasi bisa terjaga pada level rendah.

Adapun untuk asumsi nilai tukar yang berada di kisaran Rp 14.400 per dollar AS pada RAPBN 2020, Eko pun menilai target tersebut juga bakal sulit dicapai.

Di dalam asumsi RAPBN 2020, nilai tukar rupiah diperkirakan bakal berada di kisaran Rp 14.400 per dollar AS.

Baca : Inilah Asumsi Makro yang Tertuang di RAPBN 2020

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebab, meskipun saat ini rata-rata nilai tukar rupiah berada di ksiaran Rp 14.250 per dollar AS, dari ketahanan fundamental Indonesia dinilai masih cukup rentan dan berpotensi membuat nilai tukar rupiah akan lebih bergejolak pada 2020 mendatang.

"Problemnya kita termasuk dalam 15 negara terbesar yang mengalami defisit current account. 15 Besar negara dengan current account adalah Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan kita nomor lima," jelas Eko.

Data terakhir, defisit neraca berjalan Indonesia pada kuartal II-2019 tercatat sebesar 8,4 miliar dollar AS atau sebesar 3,04 persen dari PDB.

Jika pemerintah tak segera melakukan langkah-langkah untuk menekan angka CAD tersebut, nilai tukar rupiah bakal lebih mudah terombang-ambing pada 2020 mendatang.

"Dilihat dari sisi global ketidakpastian meningkat sebetulnya di 2020, rupiah akan lebih mudah terombang-ambing kalau nggak ada upaya serius tekan CAD di bawah 3 persen," ujar dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.