Eksistensi Jamu Gendong di Tengah Pandemi Corona

Kompas.com - 15/04/2020, 20:11 WIB
Pedagang jamu asal Wonogiri, Jawa Tengah, Sisri (50), mencoba peruntungan di tepian rel kereta di Stasiun Rangkasbitung, Lebak, Banten, Minggu (10/4/2011). Pekerjaan ini telah ia tekuni selama 20 tahun. KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Pedagang jamu asal Wonogiri, Jawa Tengah, Sisri (50), mencoba peruntungan di tepian rel kereta di Stasiun Rangkasbitung, Lebak, Banten, Minggu (10/4/2011). Pekerjaan ini telah ia tekuni selama 20 tahun.

E jamu... jamune...

Badan sehat awak kuat yen diombe...
Mbakyu-mbakyu sampean mriki kulo tumbasi...
Monggo-monggo sing pait nopo sing legi...
("E Jamune", dipopularkan Waljinah)

Oleh: Kartika Nuringsih, SE, MSi

SUARA khas Waljinah saat menyanyikan lagu "E Jamune" di atas mengingatkan pada masa kejayaan jamu gendong.

Indonesia sebagai megacenter keaneragaman hayati memiliki tradisi menggunakan obat tradisional.

Kearifan lokal ini memiliki potensi dikembangkan sebagai aktivitas komersiel diantaranya jamu gendong seperti dalam lantunan lagu di atas.

Kaum wanita dari Karanganyar, Sukoharjo, dan Wonogiri dikenal gigih merantau di Jabodetabek atau kota besar di Indonesia sebagai pedagang jamu.

Sembari mempertahankan tradisi leluhur, eksistensi pedagang jamu mampu menegakkan ekonomi keluarga. Karena dijajakan dengan digendong lantas disebut jamu gendong.

Sekarang pedagang muda beralih menggunakan gerobak, sepeda, bahkan sepeda motor.

Namun, penampilan pedagang senior mempertahankan dengan mengendong bakul dari anyaman bambu berisi 7-9 botol jamu sambil membawa ember plastik ukuran kecil berisikan air untuk mencuci gelas.

Pedagang ini piawai membuat ramuan jamu beras kencur, kunyit asam, temu lawak atau pahitan yang bermanfaat untuk menjaga kebugaran.

Dalam sejarah jamu gendong, dahulu pedagang membuat delapan jenis jamu berupa: kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu laos, uyup-uyup/gepyokan dan sinom.

Sesuai urutan, jamu mengandung filosofi sebagai siklus kehidupan manusia yang diawali dari rasa manis-asam, selanjutnya sedikit rasa pedas-hangat, beralih menjadi rasa pedas, kemudian merasakan pahit, beralih ke rasa tawar dan akhirnya kembali menjadi manis.

Jumlah botol pun sebagai pertanda status pedagang. Lima atau tujuh botol menandakan gadis, 8 sudah menikah, dan 9 menandakan tidak bersuami.

Sekarang kriteria tersebut tidak berlaku pada komunitas jamu. Jumlah botol tergantung kemampuan mengendong atau jumlah pelanggan.

Jenis transportasi misalnya sepeda, gerobak atau sepeda motor dapat membawa lebih banyak.

Terkait filosofi di atas, jamu sebagai aset budaya sehingga perlu dipertahankan sekaligus mengapresiasi aktivitas komersiel yang dilakukan oleh Mbak Jamu.

Ilustrasi empon-empon: jahe, kunyit, dan kencur.SHUTTERSTOCK/MASTON ART Ilustrasi empon-empon: jahe, kunyit, dan kencur.
Keberadaan jamu tradisional diakui oleh pemerintah melalui Permenkes Republik Indonesia No. 006 Tahun 2012 dengan pernyataan, Usaha Jamu Gendong (UJG) adalah "Usaha yang dilakukan oleh perseorangan dengan menggunakan bahan obat tradisional dalam bentuk cairan yang dibuat segar dengan tujuan dijajakan langsung kepada konsumen".

Pada tahun 2014 jamu gendong diapresiasi oleh Kementrian Kesehatan melalui Gerakan Nasional Bugar dengan Jamu disingkat Bude Jamu.

Jamu gendong sebagai penyedia swamedikasi secara harian bagi masyarakat sehingga mendukung aktivitas pemeliharaan kesehatan masyarakat atau program Indonesia sehat.

Untuk mendukung program tersebut perlu sentuhan dari berbagai pihak untuk mendampingi kelompok UJG supaya mampu menyediakan jamu berkasiat, berkualitas dan higienis.

Tidak mengeluh di tengah wabah corona

Seiring perjalanan jamu gendong, pandemi virus corona atau Civid-19 meluluhkan aktivitas sosial, budaya, keagamaan dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Social distancing dan physical distancing mengharuskan karyawan bekerja dari rumah (work from home). Sekolah dan perguruan tinggi berubah menjadi sistem online.

Kawasan kos-kosan tampak lenggang karena mahasiswa pulang ke daerah masing-masing sambil menunggu informasi dari pihak kampus. Masalah terjadi di tingkat grassroots.

Roda ekonomi menjadi timpang, usaha harian seperti warteg, ayam penyet, pecel lele dan sejenisnya memutuskan tidak berdagang untuk sementara waktu. Jikapun berdagang mereka mengalami kerugian lantaran sepi pembeli.

Namun, ada yang bertahan di tengah wabah virus corona. Eksistensi Mbak Jamu berbeda dengan cerita warteg, ayam penyet, pecel lele atau sejenisnya.

Dengan adanya berita temu lawak atau empon-empon dapat digunakan untuk menjaga stamina menghadapi corona, pedagang seperti Mbak Sum justru ditunggu pembeli.

Jamu biasanya disajikan dalam gelas kecil sekarang dikemas menggunakan botol plastik yang dipesan melalui supplayer kemasan. Per botol jamu temu lawak, beras kencur atau kunyit asam dihargai Rp 15.000.

Melalui media sosial WhatsApp, pesanan dipersiapkan oleh Mbak Sum serta tidak lupa memberikan tip untuk perantara jamunya. Solidaritas sosial terjalin dalam kemelut corona ini.

Di samping pesanan, Mbak Sum melayani pembeli setianya dengan harga Rp 4.000 per gelas secara door to door.

Sebagian pelanggan menyediakan gelas minum sendiri supaya lebih terjaga kebersihannya.

Tentu saja dengan tetap memperhatikan jaga jarak fisik serta kondisi pelanggannya. Kondisi fisik dan kesehatan pedagang harus dijaga dengan baik.

Masker digunakan untuk melindungi diri dan memastikan higienitas jamu yang disajikan kepada pelanggan. Rajin cuci tangan menggunakan sabun serta tidak lupa sesering mungkin mengganti air dalam ember plastiknya.

Yang penting semua waras dan bregas meskipun harga temu lawak hampir mencapai Rp 100.000 per kg belum lagi harga empon-empon lainnya.

Di tengah wabah ini, sampai minggu terakhir bulan Maret masih mampu mempertahankan ekonomi keluarga sembari menyediakan minuman sehat bagi pelanggan setianya.

Meskipun demikian, tetap harus diingatkan supaya mengutamakan social distancing dan physical distancing dengan cara melayani pesanan.

Inovasi dilakukan meskipun sebatas kemasan dan penggunaan media sosial WhatsApp. Dengan mengubah kemasan, pedagang mampu menarik pembeli baru dari kalangan masyarakat berbeda.

Pedagang mampu mempertahankan kepercayaan pelanggan dengan menjaga keaslian bahan baku atau empon-empon, rasa/khasiat serta kebersihan dalam pengolahan jamu.

Di samping keramahan, higienitas pribadi seperti kebersihan tangan, kuku, badan, mulut serta penampilan perlu diperhatikan oleh pedagang.

Gambaran tadi sebagai salah satu contoh aktivitas pedagang jamu.

Namun, belum semua pedagang melakukan cara sama atau mungkin ada perilaku yang mengambil keuntungan dari wabah virus corona.

Kendati demikian stakeholder seperti perguruan tinggi dan perusahaan jamu bersama pemerintah harus memberi edukasi pengelolaan kualitas kepada pedagang jamu.

Pengelolaan kualitas

Maria C Torri (2012) meneliti komunitas jamu gendong atau jamu peddler di Kota Yogyakarta.

Dinyatakan bahwa sistem jamu di Indonesia berkaitan dengan tiga aspek, yakni small scale enterprises, traditional knowledge, dan social empowerment.

Diingatkan juga tentang pengetahuan dan persepsi konsumen jamu terhadap risiko (Torri, 2013).

Dengan memberi apresiasi kepada komunitas jamu berarti turut berpartisipasi dalam peningkatan ekonomi kelompok UJG, melestarikan warisan leluhur serta memberi akses pengetahuan. Pengenalan budaya kualitas menjadi penting untuk pedagang jamu.

Apresiasi terhadap komunitas jamu dirancang melalui Gugus Kendali Mutu (GKM). Gugus sebagai media untuk memahami masalah dan menemukan solusi menjalankan usaha secara berkelanjutan.

GKM merupakan bagian dari total quality management (TQM) memiliki tujuan membangun budaya kualitas untuk meningkatkan mutu, produktivitas dan daya saing.

Melalui GKM pedagang dibantu memecahkan masalah berdasarkan siklus plan-do-check-action secara sederhana.

Rekayasa sosial membantu meningkatkan pengetahuan pengelolaan kualitas dan membiasakan perilaku bersih sejak input, pengolahan, output, kualitas layanan serta menjalin hubungan masyarakat. Kartu gugus memantau kebiasaan komunitas jamu dalam pengelolaan kualitas.

Kartu gugus mengevaluasi pelaksanaan pengelolaan kualitas. Proses check list dilakukan oleh pendamping dan ketua gugus.

Proses evaluasi dan feedback dilakukan oleh pendamping serta dikomunikasikan kembali kepada gugus.

Sinergi lima langkah tersebut membantu komunitas UJG dalam penyajian jamu yang berkasiat, berkualitas serta higienis. Jamu adalah warisan budaya asli bangsa Indonesia yang secara turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketertarikan generasi penerus jamu makin surut. Menurut catatan MURI sampai akhir tahun 2012 jumlah wanita penjual jamu gendong minimal mencapai 50.000 pedagang.

Jumlah itu dipastikan berkurang sekarang. Implementasi kartu dan gugus mendukung Gerakan Bude Jamu supaya dapat mendampingi pedagang jamu yang sebelumnya belum terdampingi oleh pihak mana pun.

Ke depannya dapat membekali pengetahuan atau informasi kepada pedagang supaya mampu mengatasi masa sulit seperti saat pandemi ini.

Apresiasi kepada Mbak Jamu berarti turut membangun keberlanjautan ekonomi keluarga, menjalin kepedulian sosial serta pelestarian budaya bangsa Indonesia. Ayo minum jamu.

Kartika Nuringsih, SE, MSi
Staf Pengajar FEB Universitas Tarumanagara



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X