2021 Perekonomian Diproyeksi Belum Pulih, Ini Penjelasannya

Kompas.com - 13/10/2020, 17:02 WIB
Pengamat ekonomi yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri saat menjadi pembicara di acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmount, Jakarta, Rabu (7/2/2018). KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDOPengamat ekonomi yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri saat menjadi pembicara di acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmount, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom memproyeksi kinerja perekonomian pada tahun 2021 mendatang belum sepenuhnya pulih.

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menjelaskan pelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memang memberikan dampak positif ke perekonomian. Namun, hal itu hanya berlangsung dalam jangka waktu pendek.

Perbaikan kinerja secara sementara itu terlihat dari indeks manufaktur Indonesia (PMI) yang sempat naik ke level 50,8 pada Agustus 2020. Hal tersebut menunjukkan adanya ekspansi pada kinerja industri manufaktur. Namun pada September 2020 kembali turun ke 47,2.

Baca juga: Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Capai Rp 331,94 Triliun

“Ini konsisten dengan leading indikator yang saya bilang, walau Juli naik, tapi kemudian flat, betul indicator rebound, tapi short lift,” kata Chatib dalam webinar bincang APBN 2021, Selasa (13/10/2020).

“Pemulihan ekonomi tidak bisa berbentuk V, maka kemungkinan apakah L apakah U atau W atau seperti lambang Nike, ini yang akan menentukan postur fiscal cocok atau enggak,” tambahnya.

Selain itu, meski ada harapan dari vaksin yang dinilai bisa menjadi titik balik perbaikan kondisi kesehatan maupun perekonomian, namun proses pemulihan tidak bisa serta merta terjadi.

Pasalnya, terdapat beberapa persoalan terkait distribusi vaksin di dalam negeri, salah satunya terkait kebutuhan sumber daya manusia.

"Katakanlah vaksin tersedia Januari, atau Desember deh tahun ini, terus kita mau kasih berapa orang, saya membaca kira-kira 170 juta sampai 180 juta, dalam jangka pendek 25 juta dan akan fokus ke tenaga kesehatan, lansia, dan yang rentan," ujar Chatib.

Baca juga: Pemulihan Sektor Perdagangan hingga Restoran Diproyeksi Melambat

"Kalau saya pakai angka 25 juta saja, dalam 365 hari dibutuhkan 68.000 vaksin per hari. Kita ada resources atau tidak untuk suntik orang 68.000 setiap hari, tidak ada lebaran, tidak ada Natal, sepanjang tahun?," jelas dia.

Chatib pun mengatakan setidaknya untuk melakukan distribusi dibutuhkan waktu satu tahun penuh. Di sisi lain, selama proses distribusi tersebut protokol kesehatan juga harus diterapkan.

Dengan demikian, kapasitas produksi sebuah perusahaan tidak bisa langsung 100 persen.

Pemerintah tidak bisa langsung mengandalkan investasi swasta tahun depan. Artinya, belanja pemerintah masih menjadi salah satu faktor pendorong dalam kinerja perekonomian ke depan.

"(Investasi swasta) kick in di 2021? Saya kira enggak karena terlihat di banking sector, LDR (loan to deposit ratio) turun, likuiditas bank baik, artinya uang banyak engga ada yang minjem, karena ngapain kalau engga ada yang minta barang tapi tetap produksi dan cuma jadi stock," ujar dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X