BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Mastercard

Berangkat dari Usaha Rumahan, Ini Kisah Inspiratif Wirausahawan Muda Indonesia yang Manfaatkan Ekosistem Digital

Kompas.com - 16/06/2023, 17:56 WIB
Anissa DW,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Fitrah Kusumaningtyas adalah seorang wirausahawan muda dari Desa Mekarsari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar). Ia menjual berbagai macam roti dari rumah ke rumah atau menitipkannya ke warung sejak 2018.

Di awal berjualan, ia mengalami kesulitan dalam mempromosikan produknya. Tak banyak orang mengetahui bisnis Fitrah lantaran desa yang menjadi tempat tinggal sekaligus usahanya relatif kecil.

Meski demikian, tantangan tersebut tidak menghalangi Fitrah untuk bermimpi dan berupaya mengembangkan bisnisnya.

Sayangnya, mimpi Fitrah untuk memajukan usahanya sirna akibat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada 2020. Bahkan, ia terpaksa harus menghentikan usahanya.

Di tengah kondisi tersebut, ia mendapat informasi tentang program bimbingan digital dari MicroMentor Indonesia (MMI). Program kemitraan ini merupakan upaya Mastercard Center for Inclusive Growth, Bank Commonwealth, dan Mercy Corps Indonesia untuk mengubah kehidupan banyak orang dan membentuk masa depan ekonomi Indonesia.

Untuk diketahui, program MMI berawal dari ide yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang kuat. Lewat program ini, para wirausahawan dapat terhubung dengan para relawan profesional dan mentor berpengalaman yang dapat membimbing mereka dalam perjalanan meraih kesuksesan.

Baca juga: Mastercard Dorong Percepatan Ekonomi Digital dan Inklusi di Masa Depan

Hingga Desember 2022, program tersebut telah menjangkau lebih dari 187.000 usaha kecil serta 27.000 relawan mentor yang kemudian membentuk komunitas usaha kecil dan relawan mentor terbesar di Indonesia.

Pada program MMI, Fitrah berkesempatan untuk bertemu mentor berpengalaman dan mendapat banyak pelajaran berharga untuk menunjang bisnisnya.

“Sekarang saya mengerti bagaimana menghitung harga pokok penjualan dan keuntungan, memisahkan keuangan bisnis dan pribadi, memasarkan produk melalui berbagai platform digital, menggunakan dompet elektronik, serta membuat produk lebih menarik dengan menambahkan label dan membuat kemasan yang menarik,” ujar Fitrah dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (14/6/2023).

Tak hanya itu, berkat pelatihan pada program tersebut, usaha roti milik Fitrah bisa mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga bisa meningkatkan jumlah pelanggannya.

Fitrah mengaku, sebelum memanfaatkan platform digital, omzet penjualannya berkisar Rp 500.000 per bulan. Setelah, setelah mengikuti MMI, penjualannya bisa meningkat hingga lima kali lipat menjadi Rp 2,5 juta per bulan.

Fitrah pun bekerja sama dengan mentornya untuk meningkatkan penjualan dengan menggunakan socio-commerce dan marketplace.

Kini, bisnis roti milik Fitrah telah menjadi sumber pendapatan utama bagi rumah tangganya. Bahkan, bisnisnya juga telah berkembang sehingga dapat menciptakan peluang kerja bagi orang-orang di sekitar lingkungannya.

Kisah serupa juga dialami oleh Rukhil Khotobah, seorang pengusaha makanan renyah dan sehat asal Malang, Jawa Timur. Ia juga menghadapi tantangan bisnis dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pandemi.

Baca juga: Mastercard Dukung Mercy Corps Indonesia Rancang Program Pendampingan Digital untuk UMKM di Tanah Air

Setelah mengikuti program MMI dan mendapatkan pendampingan dari mentor profesional, perlahan bisnisnya kembali bangkit.

Sebelumnya, ia mengaku tidak terlalu memahami penggunaan teknologi dan media sosial untuk berbisnis. Dengan bantuan yang diberikan melalui MMI, pengetahuannya tentang pemasaran digital perlahan-lahan berkembang. Salah satunya, pemesanan produk bisa dilakukan secara daring.

“Mentor saya sangat membantu, terutama dalam meningkatkan pemahaman tentang menggunakan pemasaran digital secara efektif. Saya tidak lagi bergantung pada promosi produk secara luring di pasar. Sekarang banyak pelanggan saya yang memesan secara daring,” ujarnya.

Tekad Rukhil untuk memasarkan bisnisnya secara digital dengan dukungan para mentor melalui MMI telah berhasil meningkatkan produksi hingga lebih dari 11.000 kg. Ia pun mampu meningkatkan pendapatannya hingga lebih dari Rp 90 juta dalam kurun waktu tiga bulan.

Capaian yang diraih oleh Fitrah dan Rukhil tersebut mengonfirmasi temuan dari hasil evaluasi dampak program MMI yang telah digelar sejak Oktober hingga November 2022.

Pada evaluasi tersebut, ditemukan bahwa para wirausahawan yang dibimbing melalui platform MMI mencatatkan tingkat keberlangsungan usaha, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan yang lebih tinggi.

Pandemi Covid-19 telah menunjukkan pentingnya beralih ke dunia digital, terutama untuk bisnis kecil seperti yang dialami Fitrah dan Rukhil. Sebab, digitalisasi dapat membantu usaha kecil untuk menghemat biaya operasional, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan bisnis.

Seperti diketahui, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berperan penting sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sektor UMKM mampu menjadi penyumbang terbesar pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia, yakni sebesar 61 persen.

Namun, dari total 64 juta UMKM yang ada di Indonesia pada 2022, baru 32,44 persen yang memasuki ekosistem digital. Bahkan, sebanyak 28,12 persen atau 18 juta UMKM belum memiliki akses ke pembiayaan formal.

Upaya berkelanjutan Mastercard untuk Indonesia

Menyadari kesenjangan digital tersebut, Mastercard bermitra dengan Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) dan Mercy Corps Indonesia untuk meluncurkan Mastercard Strive Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan para pelaku usaha kecil yang paling rentan, serta memberikan kesempatan yang setara bagi mereka.

Selain itu, inisiatif tersebut juga bertujuan untuk membantu usaha kecil beralih ke ekosistem digital dan memperluas jaringan mereka, mendemokratisasi akses terhadap kredit, serta memperkuat ekosistem pendukung usaha kecil.

Dengan target untuk membantu 300.000 usaha kecil di Indonesia berkembang dalam ekonomi digital, Mastercard Strive Indonesia berupaya memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia dan membantu menciptakan kisah sukses bagi pengusaha kecil, seperti yang dialami oleh Fitrah dan Rukhil.

Sementara itu, secara global, Mastercard berkomitmen untuk membawa 1 miliar orang dan 50 juta usaha mikro dan kecil ke dalam ekonomi digital pada 2025.

Baca juga: Mastercard Strive Indonesia Siap Bantu UMKM Sukses di Era Ekonomi Digital

Pasalnya, ketika usaha kecil berkembang, komunitas dan ekonomi lokal pun ikut berkembang. Oleh karena itu, Mastercard yakin bahwa masih banyak hal yang dapat dan harus dilakukan untuk membantu memperkuat, memberdayakan untuk masa depan digital, serta menggali potensi usaha kecil untuk memajukan pertumbuhan yang inklusif di Indonesia.

Sebagai informasi, program Mastercard Strive Indonesia merupakan kelanjutan dari Mastercard Academy 2.0.

Adapun Mastercard Academy 2.0 merupakan sebuah inisiatif untuk membekali 100.000 masyarakat Indonesia, termasuk pelajar, mahasiswa, pekerja, profesional yang sedang meniti karier, dan pelaku usaha kecil dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan di era ekonomi digital. Program ini telah berjalan sejak 2019.

Hingga Desember 2022, Mastercard Academy 2.0 telah melampaui target awal dan menjangkau lebih dari 280.000 penerima manfaat.

Mastercard sendiri menjadi salah satu perusahaan terdepan dalam memberikan dampak sosial dan program kemanusiaan di Indonesia. Sejak 2017, Mastercard telah membantu lebih dari 68.000 pelajar dan 280.000 wirausahawan yang 62 persen di antaranya adalah perempuan.

Selama pandemi Covid-19 pada 2020, Mastercard memberikan bantuan nontunai untuk memenuhi kebutuhan dasar kepada lebih dari 30.000 individu di Jakarta.

Baca juga: Masih Menyisakan Duka Mendalam, Mastercard Berikan Bantuan untuk Penyintas Gempa Cianjur

Kemudian, saat gempa bumi melanda kawasan Cianjur, Jabar, pada 2022, Mastercard bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia untuk memberikan bantuan kepada ratusan rumah tangga dan memberikan manfaat kepada lebih dari 1.600 orang yang kehilangan tempat tinggal.

Berbagai program itu berhasil berkat kolaborasi dari berbagai kelompok dan organisasi, seperti Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, perusahaan swasta, seperti Grab dan Bank Commonwealth, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Mastercard juga bekerja sama dengan organisasi nirlaba, seperti Mercy Corps Indonesia, YCAB Foundation, dan InfraDigital Foundation.

Kolaborasi tersebut memungkinkan Mastercard untuk memberikan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat, serta membangun ekonomi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi semua orang di mana pun mereka berada.

Baca tentang

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com