Salin Artikel

[TREN KESEHATAN KOMPASIANA] Setahun Covid-19 di Indonesia | Vaksinasi dan Herd Immunity | Pengalaman Donor Plasma Konvalesen

KOMPASIANA---Sudah genap satu tahun pandemi covid-19 melanda Indonesia. Waktu yang tidak sebentar, tapi pelajaran apa yang bisa kita dapatkan?

Penularannya masih terjadi hingga sekarang, vaksinasi covid-19 juga dijalankan, hingga pengembangan vaksin terus dikembangkan.

Satu-satunuya yang bisa kita andalkan saat ini, barangkali, adalah tetap menerapkan protokol kesehatan.

Pada akhirnya kita menjalankan perubahan perilaku yang jadi pondasi utama dalam usaha menghentikan penularan virus covid-19 ini.

Untuk terus memberikan kewaspadaan dan tetap disiplin, berikut 4 konten terkait setahun berjalannya pandemi covid-19 di Indonesia: dari ditemukannnya kasus pertama hingga pengalaman mendonorkan plasma konvalesen.

1. Setahun Covid-19 di Indonesia: iawali Sikap Meremehkan, Diiringi Disorientasi, Dikado Virus Mutasi

Saat diumumkannya pasien 1 dan pasien 2 oleh Presiden Joko Widodo yang terjangkit covid-19, itulah jadi awal bahwa virus tersebut sudah masuk Indonesia.

Kompasianer Hendra Wardhana menulis, itulah hari yang kita terima sebagai awal dimulainya pertarungan melawan Covid-19 di Indonesia. Kemudian, pada 11 Maret 2020, pandemi dideklarasikan oleh WHO.

Jika mengingat lagi ke belakang apa yang sudah terjadi selama satu tahun ini, Kompasianer Hendra Wardhana menjelaskan ada 4 hal yang kentara tentang bagaimana kita melihat pandemi covid-19.

"Kerja keras yang menghabiskan banyak tenaga, biaya, waktu, dan juga mengorbankan banyak nyawa, telah ditempuh selama perang melawan Covid-19 setahun ini," tulisnya.

Namun, beratnya upaya melawan Covid-19 di Indonesia, lanjutnya, dipengaruhi kuat oleh kenyataan bahwa kita terlambat beberapa langkah pada awalnya. (Baca selengkapnya)

2. Ayo Vaksinasi Covid-19 agar Siap Menerapkan Herd Immunity

Kompasianer Syahnanto Noerdin menceritakan bagaiamana ketika mendapat kesempatan vaksin covid-19 bersama para wartawan lainnya.

Para pekerja media ini memang mendapat prioritas sebagai penerima vaksin dikarenakan jenis pekerjaan yang termasuk kategori berisiko tinggi tertular Covid-19.

"Saya bersama awak media lain yang terjadwal pada sesi vaksinasi hari terakhir di hari Sabtu ini dimulai pada pukul 08.00 WIB," tulisnya.

Kalau berdasarkan catatan waktu yang dihitung rata-rata peserta vaksinasi, lanjutnya, menghabiskan waktu sekitar satu jam setengah, dimulai dari tahapan awal registrasi hingga mendapatkan surat keterangan sudah divaksin. (Baca selengkapnya)

3. Pengalaman Pertama Donor Plasma Konvalesen, Ternyata seperti Ini Prosedurnya

Sebagai penyintas Covid-19, Kompasianer Very Barus sebenarnya sudah lama ingin mendonorkan plasma.

Malah, ketika sudah dinyatakan negatif covid-19, pada saat itu juga ingin langung jadi pendonor plasma.

Karena masih banyak pasien Covid-19 yang terbaring tak berdaya di ruang ICU membutuhkan donor plasma demi kesembuhannya. Akan tetapi prosedurnya mesti 3 minggu setelah negatif.

"Ternyata tidak semudah mendonorkan darah regular. Kita harus melakukan perjanjian dulu sehari sebelumnya," lanjutnya.

Sudah begitu, bagi pendonor mesti menunjukkan bukti kalau kita pernah dinyatakan positif Covid-19 hingga negatif melalui surat atau foto.

"Tim medis berpesan agar saya menghindari begadang dan makan daging pada malam hari untuk menghindari pengentalan darah saat donor dilakukan," tulis Kompasianer Very Barus. (Baca selengkapnya)

4. Phobia Vaksinasi Covid-19 atau Takut pada Jarum Suntik, Tantangan di Kala Pandemi

Phobia pada jarum suntik dalam pedoman diagnostik gangguan jiwa di USA atau DSM-5 di kelompokkan pada Phobic Disorder (gangguan rasa takut).

Kompasianer Isa Multazam menilai, gangguan phobia tersebut lebih banyak disebutkan dalam tayangan televisi sebagai phobia vaksinasi Covid-19.

Individu dengan phobia spesifik tipe "blood-injection-injury" biasanya merasa takut yang diakibatkan karena melihat darah, cedera dari tindakan suntikan, atau prosedur medis invasif lain.

" Ketakutan ini adalah hal yang umum dijumpai dan biasanya berupa respons vasovagal yang kuat seperti: vasodilatasi, bradikardi, hipotensi ortostatik, bahkan sampai pingsan saat dipaparkan pada jarum suntik atau menunggu antrian di vaksinasi," tulis Kompasianer Isa Multazam. (Baca selengkapnya)

https://money.kompas.com/read/2021/03/03/191900426/-tren-kesehatan-kompasiana-setahun-covid-19-di-indonesia-vaksinasi-dan-herd

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.