Nigeria Bakal Investasi Rp 24 Triliun di Indonesia

Kompas.com - 12/10/2011, 09:10 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Nigeria merencanakan investasi refinery senilai Rp 24 triliun di Indonesia. Nilai itu setara dengan tiga pabrik refinery dengan kapasitas masing-masing sebesar 300 barrel per hari.

"Dialog kedua negara positif sekali. Kita sampaikan kebutuhan untuk industri kita, mereka pun begitu. Sepertinya sudah sama-sama cocok," ungkap Dirjen Industri Berbasis Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, Selasa (11/10/2011).

Kesepahaman rencana antara kedua negara itu tercapai ketika delegasi Indonesia mengutarakan tentang kebutuhan minyak mentah. Gayung bersambut, Nigeria pun sedang mempertimbangkan mencari rekan untuk menggarap potensi minyak negaranya yang mencapai 2,6 juta barrel per hari.

Ketika tercapai persamaan ide itu, Indonesia sempat disarankan untuk berinvestasi di Nigeria. Namun, usulan itu terpaksa ditolak lantaran Indonesia masih pada rencana untuk menggiatkan hilirisasi industri di tanah air. Setelah menjelaskan kebijakan tentang minyak bumi dan gas pada masing-masing negara, diperolehlah satu kata sepakat.

Alur rencana, Indonesia akan mengimpor minyak mentah dari Nigeria. Hal itu akan dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai rekanan perusahaan Nigeria di Indonesia. Apabila Nigeria nantinya berinvestasi maka pemerintah akan memberikan insentif pajak berupa pembebasan atau pengurangan pembayaran pajak dalam waktu tertentu (tax holiday).

Menurut Panggah, mengenai kepastian pelaksanaan kerja sama investasi itu masih akan dipastikan kira-kira setelah kedua belah pihak membahas detil dalam tim khusus selama kurang lebih setahun. "Waktunya setahun. Realisasinya mungkin masih tahun depan," ujarnya.

Rencana Nigeria itu nantinya berpotensi membantu Indonesia untuk mengembangkan sektor pengolahan minyak mentah menjadi nafta sebagai bahan baku polipropilene dan polyethylene.

Direktur Industri Kimia Dasar Ditjen Industri Berbasis Manufaktur Kementerian Perindustrian Tony Tanduk menjelaskan, pemerintah memang sedang berusaha menarik investasi untuk membangun refinery dengan kapasitas 300 barrel per hari. Untuk setiap refinery berkapasitas 300 barel per hari dibutuhkan investasi sekitar Rp 8 triliun.

Tony mengutarakan, Nigeria telah menyatakan minatnya untuk masuk sektor petrokimia. Hal tersebut senada dengan niat Indonesia yang sedang mengembangkan industri petrokimia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kesepahaman itu, katanya, akan ditindaklanjuti Nigeria melalui penyiapan proposal kerja sama. "Peluang yang ada dengan membangun refinery di Indonesia menggunakan crude oil Nigeria," paparnya.

Nantinya, pabrik pengolahan itu diwajibkan untuk mengintegrasikannya dengan pabrik pengolahan polyethylene dan polipropilene untuk mendukung hilirisasi industri dalam negeri. (Dani Prasetyo/Kontan)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.