Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tinjau Ulang Rencana Pembatasan Ekspor Batubara

Kompas.com - 25/10/2011, 21:32 WIB
Evy Rachmawati

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Irwandy Arif mempertanyakan dasar penetapan pemerintah untuk mengklasifikasikan golongan batubara Indonesia sesuai rancangan peraturan menteri itu. Apalagi, sebagian besar produsen batubara belum siap melaksanakannya karena belum ada teknologi dalam negeri dan luar negeri yang terbukti dapat meningkatkan kalori batubara secara komersial.

Atas dasar itu, perlu ada kesepakatan pengklasifikasian kualitas batubara berdasarkan nilai kalori dan identifikasi teknologi peningkatan nilai tambah untuk industri batubara di Indonesia.

"Peraturan tidak boleh tiba-tiba, harus ada pentahapan implementasi rancangan aturan pemerintah dan mendorong teknologi potensial untuk masuk ke skala komersial, bukan sebatas proyek percontohan," ujar Irwandy, Selasa (25/10/2011) di Jakarta.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Thamrin Sihite mengakui, pelarangan ekspor batubara dengan kalori di bawah 5.700 kilokalori per kg akan menimbulkan potensi masalah. Sebab, ada sejumlah batubara yang tidak dapat diekspor dan tidak terserap di pasar domestik.

"Selain itu, belum ada teknologi untuk meningkatkan kalori batubara yang terbukti secara komersial," kata dia.

Dari sisi investasi, pelarangan ekspor itu akan mengakibatkan investasi untuk pengembangan batubara dengan nilai kalori di bawah 5.700 kilokalori per kilogram mengalami kesulitan dalam pengembalian modal karena terkendala ekspor. Dari sisi pasokan, dengan adanya pelarangan ekspor itu, pasokan batubara untuk domestik, khususnya untuk pembangkit listrik tenaga uap, akan berlebih atau tidak terserap.

"Karena itu, perlu blending facility untuk memenuhi kualitas batubara yang dibutuhkan PLTU, dan perlu penambahan PLTU mulut tambang untuk memanfaatkan batubara yang dilarang diekspor," ujarnya.  

Menurut Thamrin, total rencana kebutuhan batubara dalam negeri kondisi terakhir adalah 51,38 juta ton, 80 persen di antaranya untuk memenuhi kebutuhan PLN, dan batubara yang dibutuhkan pada kalori 5.700 kilokalori per kg. Untuk kalori itu, volume produksi 172 juta ton, dan 123 juta ton di antaranya untuk ekspor.

Jika diterapkan larangan ekspor untuk kalori di bawah 5.700 kilokalori per kg maka 123 juta ton tidak bisa diekspor. Oleh karena itu, kebutuhan domestik 51,38 juta ton bisa disuplai dari rencana penjualan domestik 5.700 kilokalori per kg yang mencapai 57 juta ton tersebut.

Data Kementerian ESDM menyebutkan, total volume produksi batubara tahun 2011 diperkirakan mencapai 327 juta ton, dan 248 juta ton di antaranya untuk ekspor. Adapun realisasi produksi semester I tahun ini sebanyak 150 juta ton, dan 121 juta ton di antaranya untuk ekspor.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com