Kompas.com - 02/04/2013, 11:29 WIB
|
EditorErlangga Djumena

Menyimak perjalanan berbagai mata uang asing di dunia, maka belumlah lengkap jika tidak memperhatikan valuta negara yang satu ini. Dollar Australia, atau biasa disebut Aussie Dollar merupakan salah satu mata uang asing pilihan di kalangan investor. Apalagi sejak beberapa mata uang tandingannya dirundung permasalahan yang mendera negaranya.

Lihat saja dollar AS yang dibayangi persoalan ekonomi negaranya, Amerika Serikat. Begitu pula halnya Euro yang dibebani problem krisis utang negara-negara anggotanya.

Di satu sisi, kondisi ini memicu ketertarikan investor pada dollar Australia hingga disinyalir turut mendongkrak perekonomian Persemakmuran Australia (nama resmi Australia). Terlebih dollar Australia merupakan salah satu mata uang yang paling diperdagangkan di pasar valas dunia.

Meski, prosentase penggunaannya hanya mencapai 4-5 persen dari transaksi, tetapi ternyata dollar Australia pantas bersanding bersama lima valuta ternama lainnya. Kelima mata uang itu adalah dollar AS (USD), yen Jepang (JPY), Euro (EUR), poundsterling (GBP), dan dollar Kanada (CAD).

Walau, di sisi lain, imbas negatif tekanan yang mendera euro berikut prolematika kawasannya pun ikut membebani fluktuasi pergerakan mata uang dollar Australia (simbol AUD). Namanya juga sesama mata uang berisiko. Ditambah lagi dengan keterkaitan ekonomi internasional yang saling terhubung satu sama lain hingga semakin mengeratkan pengaruh antara satu negara dengan negara lainnya.

Dan sebagai salah satu negara makmur di dunia, Australia merupakan negara dengan perekonomian terbesar ke-13. Jadi, munculnya sinyal kebangkitan dollar Australia sebagai mata uang berprospek positif ke depan bukanlah hanya isapan jempol belaka.

Banyak faktor pendukung yang berada di belakangnya. Apalagi Australia terhitung aktif dalam keanggotaannya dalam PBB, G-20 ekonomi utama, negara-negara persemakmuran, ANZUS, Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi, Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik, Forum Kepulauan Pasifik, dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Kini, di kala negara-negara besar dunia dirundung kesusahan, ada secercah harapan yang menaungi Australia. Bahkan, mata uang dollar Australia pun terapresiasi terhadap sebagian besar mata uang utama pasca rilis data perekonomian negara yang bergabung dengan persemakmuran Inggris itu. Kendati berbagai sentimen negatif dari eksternal masih berpeluang menahan laju penguatan dollar Australia ke depan di tengah kemelut persoalan yang mendera perekonomian dunia.

Saat kondisi pasar yang cenderung dibayangi aversion itu, maka aset safe haven lah pemenangnya. Dalam hal ini investor berburu dan lebih dominan memegang mata uang dollar AS, yen Jepang ataupun aset berbentuk logam mulia, terutama emas, dibandingkan aset-aset berisiko.

Sementara itu, pupusnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank Sentral Australia tahun ini berkat pertumbuhan Australia yang terdorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga dan tingkat ekspor memunculkan tambahan dukungan buat dollar Australia.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.