Kompas.com - 03/06/2013, 15:18 WIB
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat upah buruh pada Mei 2013 ini mengalami kenaikan tipis. Upah buruh tersebut meliputi hampir semua industri.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, upah buruh pada Mei 2013 ini mengalami kenaikan bervariasi dengan rentang maksimal hanya naik 5 persen.

"Kenaikan upah buruh ada di sektor pertanian, bangunan, pembantu rumah tangga, hingga buruh industri," kata Suryamin saat konferensi pers di Jakarta, Senin (3/6/2013).

Suryamin menambahkan, upah tersebut dilihat secara upah riil dan upah nominal. Upah riil menggambarkan perubahan daya beli dari pendapatan yang diterima buruh, seperti buruh tani, buruh informal perkotaan, dan buruh industri, yaitu kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Hal ini mencerminkan semakin tinggi upah riil maka semakin tinggi daya beli upah buruh atau sebaliknya.

Adapun upah nominal merupakan perubahan upah secara nominal (angka).

Untuk upah buruh petani pada Mei 2013 lalu mengalami kenaikan 0,12 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari Rp 41.470 menjadi Rp 41.518. Sementara upah secara riil naik 0,15 persen dari Rp 27.871 menjadi Rp 27.912.

Upah buruh bangunan (tukang buruh mandor) per hari secara nominal rata-rata naik 0,31 persen dari Rp 72.588 menjadi Rp 72.816. Secara riil, upah tersebut juga naik 0,34 persen dari Rp 52.357 menjadi Rp 52.537. Untuk upah buruh tukang potong rambut wanita per kepala secara nominal naik 0,23 persen dari Rp 19.704 menjadi Rp 19.750. Sementara secara riil naik 0,26 persen dari Rp 14.212 menjadi Rp 14.249.

Untuk upah pembantu rumah tangga per bulan secara nominal naik 0,41 persen dari Rp 321.734 menjadi Rp 323.050. Secara riil, upah tersebut naik 0,44 persen dari Rp 232.064 menjadi Rp 233.081. Sedangkan untuk upah buruh industri secara nominal pada kuartal IV-2012 naik 4,49 persen dibanding kuartal sebelumnya, yaitu dari Rp 1.525.600 menjadi Rp 1.594.000. Secara riil, upah tersebut mengalami kenaikan 3,69 persen dari Rp 1.134.700 menjadi Rp 1.176.500.

"Upah buruh industri ini terjadi di industri tembakau, furnitur, semen, hingga industri logam, yang rata-rata naik maksimal hanya 7 persen, khususnya di industri tembakau (rokok)," tambahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gandeng Digidata, Bank BJB Permudah Verifikasi Calon Nasabah

Gandeng Digidata, Bank BJB Permudah Verifikasi Calon Nasabah

Whats New
Subsidi Gaji Rp 1 Juta untuk Pekerja Segera Cair, Ini Kriteria dan Cara Cek Penerimanya

Subsidi Gaji Rp 1 Juta untuk Pekerja Segera Cair, Ini Kriteria dan Cara Cek Penerimanya

Whats New
Kalbe Bakal Tebar Dividen Rp 35 per Saham

Kalbe Bakal Tebar Dividen Rp 35 per Saham

Whats New
CT Tunjuk Mantan Direktur BRI Indra Utoyo sebagai Dirut Allo Bank

CT Tunjuk Mantan Direktur BRI Indra Utoyo sebagai Dirut Allo Bank

Whats New
Pasar Data Center Tumbuh Pesat, Telkom Hadirkan NeutraDC

Pasar Data Center Tumbuh Pesat, Telkom Hadirkan NeutraDC

Whats New
Bank Dunia Gelontorkan Rp 441 Triliun Buat Tangani Krisis Pangan, Ini 4 Prioritasnya

Bank Dunia Gelontorkan Rp 441 Triliun Buat Tangani Krisis Pangan, Ini 4 Prioritasnya

Whats New
IHSG Berakhir di Zona Hijau, Rupiah Masih Melemah

IHSG Berakhir di Zona Hijau, Rupiah Masih Melemah

Whats New
Dunia Bergejolak, Sri Mulyani Proyeksi Inflasi 2022 Dekati 4 Persen

Dunia Bergejolak, Sri Mulyani Proyeksi Inflasi 2022 Dekati 4 Persen

Whats New
Anggaran Subsidi Energi Bengkak, Harga Pertalite Tetap Tidak Naik

Anggaran Subsidi Energi Bengkak, Harga Pertalite Tetap Tidak Naik

Whats New
Niat Cuma Bantu Suami, Istri Ojol Ini Tak Menyangka Bisnisnya Malah Sukses

Niat Cuma Bantu Suami, Istri Ojol Ini Tak Menyangka Bisnisnya Malah Sukses

Smartpreneur
Harga Minyak Dunia Bergejolak, Anggaran Subsidi Energi Bengkak Jadi Rp 443,6 Triliun

Harga Minyak Dunia Bergejolak, Anggaran Subsidi Energi Bengkak Jadi Rp 443,6 Triliun

Whats New
Punya Growth Mindset saat Bekerja, Pentingkah?

Punya Growth Mindset saat Bekerja, Pentingkah?

Work Smart
Polda Jatim Ringkus Mafia Pupuk dan Amankan 279,45 Ton Pupuk Subsidi, Mentan SYL Berikan Apresiasi

Polda Jatim Ringkus Mafia Pupuk dan Amankan 279,45 Ton Pupuk Subsidi, Mentan SYL Berikan Apresiasi

Rilis
IHSG Mulai Pulih, Simak Cara Mengatur Portofolio Investasi

IHSG Mulai Pulih, Simak Cara Mengatur Portofolio Investasi

Earn Smart
Diterpa Sentimen 'Sell in May and Go Away', Apakah IHSG Masih Menarik?

Diterpa Sentimen "Sell in May and Go Away", Apakah IHSG Masih Menarik?

Earn Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.